Seremoni penerimaan tentara AS yang tewas.
LITERASI-ONLINE.COM - Amerika Serikat (AS) menyerang Iran tanpa persiapan strategi yang matang. Saat ini, perang lawan Iran sudah berlangsung hampir dua pekan, sejak AS-Israel memulai serangan ke Kota Teheran pada 28 Februari 2028.Klaim kemenangan yang terus-menerus dikumandangkan Presiden AS, Donald Trump, faktanya terbukti terbalik.Jumlah tentara AS yang terluka dan tewas terus bertambah.Data resmi yang dikeluarkan militer AS: jumlah tewas 13 orang, terluka 140 orang.Tapi, jumlah tentara AS yang tewas dan terluka diperkirakan jauh di atas angka itu.Sebab, militer Iran mampu menghancurkan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah yang dijaga banyak tentara. Hingga saat ini, situasi bukannya mereda, perang justru merembet dan membawa Timur Tengah ke dalam pusaran konflik. Pemerintahan Donald Trump dinilai terlalu optimistis dan terjebak dalam angan-angan akan menang mudah, sehingga gagal mengantisipasi taktik perang asimetris yang sudah dipersiapkan Iran.Penilaian itu dikemukakan direktur di International Crisis Group, Ali Vaez, pekan ini.Di mata Ali Vaez, AS tidak memiliki strategi yang dipikirkan dengan matang saat memutuskan untuk terlibat dalam konflik bersenjata ini. "AS memasuki perang tanpa persiapan matang, hanya didorong oleh banyak angan-angan dan bukan oleh strategi yang dipikirkan dengan baik," kata Vaez, seperti diberitakan Reuters, Kamis (13/3/2026). Ia menambahkan, ketidaksiapan strategi itu tampak jelas dari kegagalan militer AS mengantisipasi serangan drone Iran di Israel dan negara-negara Teluk.Gagal mengantisipasi gangguan masif di jalur pelayaran internasional.
Baca juga