Seremoni penerimaan tentara AS yang tewas.

Intelijen AS Gagal

Vaez menambahkan, intelijen AS gagal total memberi pasokan informasi yang dibutuhkan untuk strategi militer.

Sebaliknya, Iran justru telah menyiapkan skenario untuk memperpanjang konflik dalam dimensi ruang dan waktu.  

Buktinya, Iran langsung mengaktifkan strategi untuk melumpuhkan titik paling lemah AS dan sekutunya: Ekonomi global.

Caranya, dengan menutup Selat Hormuz. Dengan menutup jalur pasokan energi utama dunia itu, Iran mampu mengimbangi superioritas militer musuh-musuhnya melalui tekanan ekonomi global. 

Data PBB menunjukkan, lalu lintas di Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, telah anjlok hingga 97 persen.  

Bukti nyata Iran berhasil mengubah aset ekonomi kawasan menjadi senjata yang paling ampuh. 

Vaez mengemukakan, jika Iran menyandera ekonomi global, Presiden AS Donald Trump akan menjadi pihak yang pertama terkena dampaknya. 

Vaez mengemukakan, AS juga terlalu meremehkan ketahanan struktur kepemimpinan Iran.  

Meskipun Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur di hari pertama serangan, sistem kekuasaan Iran tidak lantas runtuh. 

Sebab, Iran menggunakan doktrin "Mosaik", yaitu sistem komando yang terdesentralisasi.  

Jika pimpinan tertinggi gugur, koordinasi perang tetap berjalan di bawah kendali Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Ali Larijani dari dewan keamanan nasional. 

Perang yang berkepanjangan akan menciptakan beban ekonomi pada AS dan dunia.

Pada gilirannya akan mengikis dukungan dunia terhadap AS dan meningkatkan tekanan pada Washington untuk segera mengakhiri perang lawan Iran. (*)



Baca juga