Kamala Harris

LITERASI-ONLINE.COM - Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Kamala Harris, membuat pernyataan mengejutkan.

Kamala yang mendampingi Presiden AS, Joe Biden, pada periode 2021-2025 melancarkan kritik keras pada serangan AS ke Iran.

Serangan itu kemudian menimbulkan dampak besar pada ekonomi dunia. Termasuk dirasakan warga AS, yang kini mengeluhkan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok yang naik signifikan.

Kamala Harris mengatakan, langkah-langkah yang diambil Donald Trump dalam perang Iran sebagai sebuah "omong kosong". 

Kamala Harris menyampaikan kritik tajam itu dalam acara diskusi Partai Demokrat Nevada di Las Vegas, AS, Kamis (7/5/2026) waktu setempat.  

Di hadapan pendukungnya, Kamala Harris menekankan perang di Iran tidak diinginkan oleh rakyat AS. "Rakyat AS tidak menginginkan perang di Iran dan tidak diizinkan oleh Kongres AS. Bahkan jika diizinkan pun, hal itu seharusnya tidak dimulai," tegas Kamala Harris, seperti diberitakan CNN. 

Kamala Harris menyoroti "omong kosong" Donald Trump yang sempat mengancam akan melakukan penghancuran total pada Iran.

Namun, hanya dalam hitungan jam,  Trump kemudian menarik ucapannya. "Dia bicara soal membumihanguskan. Semua itu hanya omong kosong," kata Kamala Harris. 

Wanita pertama yang pernah menjabat wapres di AS ini kemudian bercanda.

"Saya sudah berjanji tidak akan mengumpat lagi di depan umum," katanya, disambut riuh warga yang hadir.

Kamala Harris menilai, konflik berkepanjang di Iran justru memberikan keuntungan strategis bagi pihak lain, terutama Rusia. 

"Anda ingin tahu siapa pemenang besar dalam perang Iran? Tentunya Rusia," tegas Kamala Harris.

Rusia dinilai mendapat keuntungan besar dari penjualan minyak dan gas, terutama setelah Iran menutup Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz membuat pasokan minyak mentah dan gas dari negara-negara Timur Tengah tersendat.

Dunia pun ramai-ramai melirik Rusia sebagai pemasok mimyak dan gas alam di pasar energi global.  

Kamala Harris juga menilai, fokus AS ke Iran menguras sumber daya militer yang dibutuhkan pihak lain.

"Kita mengirimkan artileri, amunisi, dan pertahanan udara yang seharusnya dikirim ke Ukraina. Jadi, konsekuensinya sangat mendalam," katanya. 

Di bagian lain kritiknya, Kamala Harris mengingatkan publik agar tidak meremehkan sosok Donald Trump. 

"Dia (Trump) berbahaya," katanya. (*)



Baca juga