Suasana meriah dan penuh keceriaan pada Pentas PAI di SD Islam Al Mubarok Surabaya, Sabtu (7/11/2026).

Melalui gaya mendongeng yang interaktif, komunikatif, humoris, dan penuh pesan edukasi, Kak Harris berhasil membangun suasana yang meriah. 

Cerita yang dibawakan tidak sekadar menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral mengenai perilaku hidup positif yang dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Interaksi antara Kak Harris dan boneka Ayis menjadi bagian yang paling mengundang gelak tawa. 

Tingkah laku serta perkataan lucu Ayis membuat anak-anak larut dalam suasana cerita.

Salah satu siswi, Adinda Rialisa Putri, mengungkapkan kegembiraannya menyaksikan penampilan tersebut.

"Boneka Ayis sangat lucu. Saya gemas melihat tingkah lakunya dan perkataan-perkataannya yang lucu," ungkap Adinda.

Antusiasme serupa juga disampaikan Ahmad Faza Sidqul Aziz Yusuf. 

Ia bahkan berharap Kak Harris dan Ayis tidak segera meninggalkan sekolah.

"Kak Harris dan Ayis tidak boleh pulang. Harus tetap di sekolah. Suatu saat Kak Harris dan Ayis harus kembali lagi ke sekolah," ujarnya dengan penuh semangat.

Ungkapan spontan para siswa tersebut menjadi gambaran bahwa dongeng masih memiliki daya tarik kuat bagi anak-anak. 

Melalui cerita yang menyenangkan, pesan pendidikan dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima dan diingat.

Bagian dari Road Show Kak Harris di Sejumlah Kota Indonesia

Kehadiran Kak Harris di SD Islam Al Mubarok Surabaya merupakan bagian dari rangkaian road show mendongeng di sejumlah kota di Indonesia. 

Beberapa kota yang masuk dalam rangkaian kunjungannya antara lain Surabaya, Banjarmasin, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan Bekasi.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali dongeng sebagai media pendidikan karakter, pengembangan imajinasi, pembentukan kebiasaan positif, serta penanaman nilai moral kepada generasi muda.

Pendidikan, Agama, Seni, dan Literasi dalam Satu Panggung

Pentas PAI dan penyambutan Hari Dongeng Nasional di SD Islam Al Mubarok Surabaya membuktikan bahwa kegiatan pendidikan tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. 

Melalui perpaduan bazar, perlombaan, pertunjukan seni, dan dongeng edukatif, anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi terus menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas, keberanian, karakter religius, serta budaya literasi anak-anak.

Semangat ribuan peserta yang hadir menjadi bukti bahwa kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan pegiat literasi dapat menghadirkan kegiatan pendidikan yang inspiratif dan berkesan.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari anak di dalam kelas, tetapi juga tentang pengalaman, keteladanan, kreativitas, dan nilai-nilai kehidupan yang mereka bawa hingga dewasa. (*)


Baca juga