Kobaran api dan kepulan asap terlihat dari area Fuerte Tiuna, kompleks pangkalan militer terbesar Venezuela, setelah terjadi rentetan ledakan di ibu kota Caracas. (AFP/LUIS JAIMES)

LITERASI-ONLINE.COM - Militer Amerika Serikat (AS) menyerang Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) dini hari waktu setempat.

Serangan besar-besaran AS ke Kota Caracas, ibukota Venezuela, membuat warga panik dan ketakutan.

Dalam keterangan melalui unggahan di media sosial, Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa pasukan negaranya menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya.  

"Amerika Serikat berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya diterbangkan keluar dari negara itu," tulis Donald Trump melalui platform Truth Social, beberapa jam setelah ledakan mengguncang Ibu Kota Caracas. 

Tapi, sejauh ini belum ada konfirmasi resmi dari pihak pemerintah Venezuela mengenai keberadaan Presiden Nicolas Maduro yang telah berkuasa sejak 2013. 

Pemerintah Venezuela menegaskan, serangan ke Kota Caracas merupakan bentuk agresi militer yang sangat serius dari Amerika Serikat. 

Serangan bersenjata ini merupakan puncak tekanan militer dan ekonomi, yang selama ini dilakukan oleh Trump terhadap Venezuela.

Trump selama ini berdalih Nicolas Maduro terlibat perdagangan atau kartel narkoba.

Trump juga beberapa kali mendesak Nicolas Maduro untuk mundur secara bijaksana.

Namun, Nicolas Maduro yang selama ini banyak mengkritik kebijakan Trump, termasuk soal Palestina, membantah tuduhan terlibat kartel narkoba.

Nicolas Maduro menyebut Trump ingin menggulingkan dirinya dan menguasai cadangan minyak Venezuela.  

Banyak pihak yang menyebut, Trump sesungguhnya ingin "menguasai" minyak Venezuela.

Negara di Amerika Selatan ini memang salah satu produsen minyak terbesar dunia.   

Ledakan Dini Hari

Serangkaian ledakan terdengar di berbagai penjuru Kota Caracas pada dini hari, sekitar pukul 02.00 waktu setempat.


Baca juga