Kompleks makam Karaeng Poto Daeng Majarre.Karaeng Kajang IX.
LITERASI-ONLINE.COM, BULUKUMBA - Sejarah Kerajaan Kajang mencatat satu nama yang tak lekang oleh waktu: Poto Daeng Majarre. Meski diangkat menjadi Karaeng Kajang IX sekitar tahun 1795 oleh Raja Gowa XXIX (1778–1810), ia tetap dikenal sebagai pemimpin yang hidup sederhana, jauh dari kemewahan istana.Poto Daeng Majarre merupakan putra Kamba Daeng Sirua dan bersaudara dengan Tutu Daeng Matika, Karaeng Kajang VII sebelum penggabungan kerajaan-kerajaan kecil di kawasan itu, termasuk Lembang, Kajang, dan Laikang. Garis keturunannya dapat ditelusuri hingga Raja Gowa IV melalui perkawinan Karaeng Tappau di Bulukumba Timur.Memiliki empat istri dan 12 anak, salah satunya Puang Galung dari perkawinannya dengan Lolo Bulaeng, cucu Datu Luwu di Tanuntung, Poto Daeng Majarre dikenal bukan karena kemewahan, melainkan kerendahan hati. Bahkan setelah menjadi Karaeng, gaya hidupnya tak berubah. Ia tetap menyatu dengan rakyat, berjalan di antara mereka tanpa sekat, seakan tak ada perbedaan antara penguasa dan yang dipimpin.Garis Keturunan RajaPoto Daeng Majarre bukanlah sosok biasa. Ia merupakan putra dari Kamba Daeng Sirua bersaudara dengan Tutu Daeng Matika Karaeng Kajang VII sebelum penggabungan, dengan Kerajaan Lembang, Kajang dan Laikang.Apabila ditelusuri ke atas beliau cucu Raja Gowa IV, melalui perkawinan anaknya Karaeng Tappau ke Bulukumba Timur dan memiliki empat orang istri dan 12 orang anak.Salah satunya adalah Puang Galung hasil perkawinan dengan cucu Datu Luwu yaitu Lolo Bulaeng di Tanuntung dan melahirkan 6 orang anak.Salah satunya Puang Galung buah hatinya bersama Lolo Bulaeng, cucu Datu Luwu, yang lahir dan dibesarkan di Tanuntung. Dari pasangan ini pula lahir enam keturunan yang kelak mewarnai sejarah Kajang.
Baca juga