Direktur Program Duta Finansi Mandiri Teddy Hendratno memberi pemaparan mengenai “Kemitraan Strategis Pengembangan Agribisnis Terpadu di Kab. Bulukumba."

LITERASI-ONLINE.COM, MAKASSAR - Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, diproyeksikan menjadi pusat pengembangan agribisnis ayam petelur terpadu yang strategis di wilayah timur Indonesia. 

Rencana tersebut dipaparkan Direktur Program Duta Finansi Mandiri Teddy Hendratno dalam dokumen bertajuk “Kemitraan Strategis Pengembangan Agribisnis Terpadu di Kab. Bulukumba” yang disusun oleh Duta Finansi Mandiri (DF&M) pada 25 Juni 2025 di Jakarta.

Teddy dalam pemaparannya di hadapan Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, dan sejumlah pejabat Pemkab Bulukumba, Rabu 26 Juni 2025 di Lantai 4, Gedung Phinisi Bulukumba, mengungkap potensi besar Bulukumba dalam menyuplai telur, baik untuk pasar Sulawesi Selatan maupun pasar nasional. 

Dari hasil analisis, Kabupaten Bulukumba diperkirakan mampu memenuhi sekitar 11 persen kebutuhan telur di Sulawesi Selatan. 

Dengan populasi ayam petelur sekitar 1,17 juta ekor, produksi tahunan diperkirakan mencapai 294 juta butir atau setara 14.710 ton per tahun.

Masih terdapat celah pasar sekitar 121.000 ton telur di Sulsel yang belum terpenuhi. 

Ini membuka peluang ekspansi produksi secara signifikan. 

Lokasi strategis untuk pengembangan disebutkan di empat kecamatan, yakni Rilau Ale, Ujungloe, dan Gantarang. Bontotiro.

Estimasi Investasi dan Produksi

Target produksi awal ditetapkan sebesar 700 ton telur per tahun. 

Untuk mencapainya, diperlukan sekitar 56.000 ekor ayam petelur dengan produktivitas rata-rata 12,5 kg per tahun per ekor. 

Total estimasi investasi awal mencapai Rp6,16 miliar dengan rincian biaya per ekor ayam sebesar Rp110.000. 

Komponen biaya mencakup bibit DOC/pullet, kandang, pakan, vaksin, peralatan, hingga pelatihan SDM.

Dengan kapasitas produksi tersebut, Bulukumba diperkirakan dapat memasok kebutuhan telur untuk 20 hingga 25 pasar kabupaten/kota di wilayah selatan.

Proyeksi Bisnis 5 Tahun

Dalam proyeksi bisnis dan profitabilitas budidaya ayam petelur selama lima tahun (2025–2030), pendapatan tahunan diperkirakan stabil di angka Rp16,1 miliar. 


Baca juga