Direktur Program Duta Finansi Mandiri Teddy Hendratno memberi pemaparan mengenai “Kemitraan Strategis Pengembangan Agribisnis Terpadu di Kab. Bulukumba."

Setelah dikurangi biaya operasional sekitar Rp13 miliar per tahun, laba bersih per tahun mencapai Rp 3,5  miliar.

Investasi awal diperkirakan akan kembali (break-even point/BEP) pada tahun kedua. 

Total akumulasi laba selama lima tahun mencapai Rp15,4 miliar. 

Proyeksi ini menjadikan bisnis ayam petelur sebagai salah satu peluang investasi agribisnis yang menarik di Sulawesi Selatan.

Mitra Potensial

DF&M juga mengidentifikasi lima perusahaan nasional sebagai calon mitra pembeli produk ayam petelur dari Bulukumba. 

Mereka adalah:

PT SPNI (Sumber Pangan Nusantara Indonesia) – distributor telur sortasi grade AA-B dan UV-steril.

PT Japfa Comfeed – Intan Kenkomayo Indonesia – fokus pada telur cair pasteurisasi untuk industri makanan dan minuman. 

Juga Hadir dalam kesempatan tersebut PT DALLE AGRO,  Agrotech Investment,  sebagai Mitra Investasi.

Agrosari Farm – produsen telur segar berkualitas tinggi sejak 1985.

Telur Emas Global Indo – pemasok telur premium untuk pasar Jawa Tengah dan Jawa Barat serta Budifarm Indonesia – distributor telur ayam dan puyuh, dengan orientasi ekspor.

Dikatakan, kemitraan dengan perusahaan-perusahaan ini dinilai potensial untuk membuka jalur distribusi nasional dan internasional serta mempercepat hilirisasi produk agribisnis Bulukumba.

Rekomendasi

Dengan potensi pasar yang besar, efisiensi produksi yang terukur, dan peluang kemitraan yang menjanjikan, DF&M merekomendasikan agar program pengembangan ayam petelur di Kabupaten Bulukumba segera diimplementasikan dalam skema kemitraan strategis yang melibatkan pemerintah daerah, investor swasta, dan pelaku UMKM lokal. (*)


Baca juga