Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Dr Dahlan Lama Bawa, S.Ag, M.Ag, saat jadi Khatib Idul Fitri 1446 H, Senin 31 Maret 2025 di Lapangan Kebun Raya Waiwerang Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT).

LITERASI-ONLINE.COM, ADONARA - Ramadhan hadir sebagai miniatur dan momentum membetuk peradaban utama, tidak terkecuali masyarakat Adonara NTT dengan pusat peradaban di Waiwerang Kota. 

Ramadhan mengajarkan banyak pelajaran, lewat ceramah agama/tadzkirah oleh ustadz dan ustadzah.

Peradaban adalah suatu tahap perkembangan masyarakat yang telah mencapai tingkat kemajuan yang tinggi dari berbagai bidang kehidupan, seperti bidang pendidikan/ilmu pengetahuan, bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Demikian isi khutbah Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Dr Dahlan Lama Bawa, S.Ag, M.Ag, saat jadi Khatib Idul Fitri 1446 H, Senin 31 Maret 2025 di Lapangan Kebun Raya Waiwerang Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Judul khutbah Idul Fitri yang dibawakan adalah Ramadhan Momentum Membentuk Peradaban Utama, (Waiwerang Miniatur Peradaban dan Kerukunan Umat)," ungkap Alumni MAS DDI Waiwerang 1989-1992 ini.

"Kelurahan Waiwerang Kota disebut sebagai miniatur peradaban, karena telah memiliki kemajuan yang tinggi pada bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sosial budaya," tambah pria kelahiran Leubatang, 12 Agustus 1974 ini.

Disebut miniatur kerukunan umat beragama, karena di Waiwerang tidak pernah terjadi konflik atas nama agama, suku atau golongan. 

"Tapi yang terwujud di Waiwerang adalah toleransi otentik, yaitu sepenuhnya sesama anak bangsa hidup dalam damai, rukun, toleran, moderat, saling mengenal, saling memahami, saling menolong dan saling menjamin," ungkap Direktur Ponpes Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro.

Salah satu unsur penting dalam peradaban adalah identitas sosial budaya masyarakatnya. 

Di Keluarahan Waiwerang Kota dan sekitarnya, hidup dengan rukun para pendatang dari berbagai suku di Indonesia, tegas Penasehat Kerukunan Keluarga Nusa Tenggara Timur (KK NTT) Makassar ini.

Dosen FAI Unismuh Makassar ini menyebut banyak suku di Keluarahan Waiwerang Kota yang tentunya memiliki sosial budaya yang cenderung berbeda-beda.


Baca juga