Tentara Israel di jalur Gaza, Palestina.

LITERASI-ONLINE.COM, GAZA - Sedikitnya 30 anggota Pasukan Pendudukan Israel (IOF) menolak perintah melakukan invasi ke Kota Rafah di Gaza, Palestina.

Mereka mengaku kelelahan, baik fisik dan mental, sehingga tidak mampu melanjutkan pertempuran yang sudah berlangsung hampir 7 bulan, sejak Oktober 2023.

Selain itu, mereka juga takut invasi ke Rafah menjadi jebakan maut yang sudah disiapkan pejuang Hamas. 

Sebelumnya, pasukan Israel dari kompi penerjun payung cadangan Brigade Penerjun Payung reguler sudah menerima perintah untuk bersiap-siap bertempur di Rafah. 

Namun mereka menolak dengan alasan sudah kelelahan dan tidak sanggup bertempur lagi.

Kabar penolakan ini diberitakan Channel 12 yang dilansir dari Al Mayadeen, akhir April 2024 lalu.

Karena penolakan pasukan inti ini, maka opsinya adalah menurunkan pasukan cadangan untuk maju ke Rafah.

Tapi, faktanya jumlah personel pasukan cadangan juga terus menipis karena banyak yang tewas.

Pejabat militer Israel berdalih, tidak akan memaksa personel cadangan untuk ikut serta dalam invasi ke Rafah.

Namun, media-media Israel menduga, alasan yang sebenarnya adalah jumlah personel pasukan cadangan juga sangat terbatas. 

Sebelumnya, lebih dari 100 wajib militer Israel yang didominasi wanita, juga menolak untuk bertugas sebagai tentara pengawas di dekat garis pemisah antara Gaza dan Israel.

Alasan penolakan wajib militer ini karena risiko kematian yang sangat besar di wilayah itu.

Keluarga Menolak

Pihak keluarga tentara Israel juga menolak rencana Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menyerang Rafah.

Mereka sangat khawatir, pertempuran darat di Rafah akan menimbulkan korban jiwa yang sangat besar, termasuk di kubu Israel.


Baca juga