Tentara Israel di jalur Gaza, Palestina.

Keluarga dari 600 pasukan Israel mengirim surat kepada Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant dan Kepala Staf Umum Herzi Halevi untuk membatalkan invasi ke Rafah.

Media Israel, Maafiv memberitakan, keluarga tentara Israel itu memperingatkan, invasi itu merupakan jebakan maut.

Sedangkan keluarga tawanan Israel menyuarakan tuntutan menggulingkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Mereka menilai, Netanyahu sudah membawa Israel ke ambang kehancuran.

Sebelumnya, sekitar 45.000 warga Israel turun ke jalanan di Kota Tel Aviv dan beberapa daerah lainnya pada akhir April 2024 lalu.

Puluhan warga Israel ini mendesak Netanyahu mengundurkan diri dari jabatannya.

Mereka menilai, Netanyahu sama sekali tidak peduli dengan keadaan ratusan warga Israel yang ditawan Hamas dan kesedihan pihak keluarga.

Buktinya, hingga 7 bulan perang dengan Hamas di Gaza, jumlah tawanan yang berhasil dibebaskan hanya sedikit. 

Salah Strategi

Mantan Kepala Direktorat Operasi IOF Israel Ziv mengemukakan, penolakan puluhan pasukan Israel untuk melakukan invasi ke Rafah, Gaza sangat wajar.

Ziv menilai, invasi ke Rafah merupakan kesalahan strategis karena kemungkinan besar tawanan Israel tidak akan selamat.

"Invasi ini akan menjadi kesalahan strategis, karena kunci (Rafah) akan diserahkan kembali ke Hamas, seperti yang terjadi di Khan Yunis dan Jalur Gaza utara," katanya, seperti dilansir dari Palestine Chronicl.

Ia yakin, tawanan Israel akan tewas jika terjadi serangan besar-besaran ke Rafah.

Ziv juga mengingatkan, invasi ke Rafah tidak akan berlangsung cepat. Bisa makan waktu berbulan-bulan. 

Hamas dipastikan memberi perlawanan sengit. 

Serangan berbulan-bulan ini butuh biaya operasional yang sangat besar dan menguras keuangan negara.

Juga bisa meruntuhkan semangat tempur para tentara Israel, seperti yang sudah terjadi saat ini. (*)



Baca juga