Amir Uskara bersama Presiden RI Prabowo Subianto.
HARI ini, penulis kembali membuka file tentang siapa sesungguhnya Dr.H.M.Amir Uskara, Sang putra Fajar dari Bumi Pallangga Gowa.Agaknya, penulis tidak elok jika tidak kembali menggerakkan jari-jari penulis di atas tuts laptop butut milik penulis atas pemberian almarhum Ketua Umum Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) Hj. Ani Yudhoyono, beberapa tahun lalu.Bagaimana ceritanya, berikut Amir Uskara mengungkapkan kepada penulis beberapa waktu lalu yang penulis tuturkan Amir Uskara sebagai orang pertama dalam tulisan ini.Berangkat dari sebuah perjuangan, hari ini terasa begitu penat. Lelah.Saya rebahkan tubuh pada kursi putar yang begitu empuk. Ikatan dasi saya longgarkan, agar angin kesejukan bisa berhembus menyejukkan jiwa.Baru saja pertemuan dengan Komisi VI selesai. Pasalnya karena ada pengalihan kemitraan BUMN dari Komisi VI ke Komisi saya mengabdi, Komisi XI DPR RI.Saya menganggapnya begitulah dinamika yang ada. Mata begitu berat rasanya. Kalau boleh memilih mimpi, saya ingin terlelap dan bermimpi masa-masa dulu yang telah saya lewati” demikian cerita Amir Uskara.Masa galau ketika Amir Uskara tidak lulus Akabri. Sekiranya kalau dulu saya lulus, saya tak berada di Fakultas Teknik Perkapalan Unhas yang mimpi saya akan mempelajari pesawat terbang, tapi kapal laut.Masa galau saat digoda dengan pesona bisnis, sementara berstatus mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.Saya kemudian bergegas, bangkit berdiri dari kursi wakil rakyat menuju ruang sidang.Memperjuangkan suara rakyat yang terkadang terbungkam di depan pintu parlemen. Apapun kata dunia, saya merasa sebagai anak yang beruntung, terlahir di tengah keluarga yang relegius dan pendidikan agama menjadi salah satu pondasinya. Tepat 9 Desember 1965 saya lahir.Ayah saya adalah seorang petani yang kehidupan sosialnya cukup bermasyarakat.Apalagi ayah saya menjadi pengurus PPP tingkat kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa.Makkaraus Daeng Tayang, nama ayah. Ibu saya, Hj Ma’alumah Daeng Kanang. Keduanya masih ada hubungan keluarga. Saya anak keempat dari sembilan bersaudara. Saya menetap di sebuah rumah posisinya masih tidak jauh dari bantaran Sungai Jeneberang. Saya akrab dengan kehidupan sungai. Berenang di pinggir sungai menjadi aktivitas yang tidak pernah alpa saya lakukan.Berenang di sungai telah menjadi bagian dari kehidupan. Bagaimanapun kondisi sungai itu, selalu saja ada permainan yang bisa kami lakukan.Kalau air sungai sedang pasang, kami anak-anak belia begitu senang karena bisa berenang dengan leluasa.
Baca juga