Prof Dr Mursalim Nohong, akademisi Unhas
Oleh: Mursalim NohongLITERASI-ONLINE.COM - Kejatuhan IHSG 2026 bukan sekadar koreksi valuasi. Fenomena ini adalah tagihan atas defisit kepercayaan kelembagaan, dan tagihan itu hanya bisa dilunasi dengan kerja nyata bukan dengan menopang harga. Jumat, 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.185,10, anjlok 11,57 persen dalam satu hari. Penurunan harian terdalam sejak krisis moneter 1998, hanya kalah dari 8 Januari 1998 ketika indeks jatuh 11,88 persen. Bursa sempat menghentikan perdagangan (trading halt) setelah indeks turun 8 persen di awal sesi. Pemicunya bukan resesi, gagal bayar, atau bencana. Pemicunya adalah satu pengumuman penyedia indeks global. MSCI membuka konsultasi untuk memindahkan Indonesia dari kelompok Emerging Market ke Standalone Market. Senin berikutnya indeks turun lagi 3,64 persen ke 4.996, level terendah dalam enam tahun. Dalam sepekan, kapitalisasi pasar menyusut dari Rp10.701 triliun menjadi Rp9.157 triliun. Sepuluh bulan sebelumnya, IHSG menutup 2025 di 8.646,94 setelah mencetak 24 rekor tertinggi, dengan kapitalisasi pasar sempat menembus Rp16.000 triliun. Pertengahan Januari 2026, indeks bahkan menembus 9.000. Meski pekan lalu indeks memantul ke 5.439,26, posisinya masih sekitar 37 persen di bawah akhir 2025. Kejatuhan IHSG tahun ini paling tepat dibaca sebagai kenaikan premi risiko kelembagaan, bukan kemerosotan fundamental ekonomi. Dari sana, tiga pertanyaan perlu dijawab: apa yang menggerakkan indeks, apa makna di balik pergerakannya, dan langkah apa yang harus diambil.Diukur dari puncak ke titik terendah, kejatuhan IHSG 2026 sekitar 43 persen sudah menjadi yang terdalam keempat sejak 1990, melampaui guncangan pandemi 2020. Kedalamannya serupa, tetapi asal-usulnya berbeda. Krisis 1998 bersumber dari runtuhnya rupiah dan sistem perbankan yang berujung krisis politik. IHSG jatuh ke 256,83 dan baru kembali ke level sebelum krisis pada Januari 2004. Krisis 2008 datang dari luar: IHSG longsor dari 2.746 ke 1.111 pada 28 Oktober 2008, tetapi pulih cepat dan melonjak 87 persen pada 2009 karena ekonomi domestik tetap tumbuh. Pandemi 2020 menekan indeks ke 3.937 pada 24 Maret, dan dalam sekitar setahun indeks kembali ke 6.300.Kecepatan ditentukan oleh sumber guncangan. Guncangan eksternal yang tidak merusak fondasi domestik pulih dalam hitungan bulan sedangkan guncangan yang merusak lembaga pulih dalam hitungan tahun. Kejatuhan 2026 adalah yang pertama dalam deretan ini yang sumber utamanya berada di dalam pasar modal itu sendiri, yaitu tata kelola dan transparansi kepemilikan. Itulah yang membuatnya lebih mudah diperbaiki sekaligus lebih mudah diabaikan. Secara teoretis, harga saham adalah nilai kini (present value) dari arus kas masa depan. Pembilangnya adalah ekspektasi laba dan penyebutnya adalah tingkat diskonto, yakni suku bunga bebas risiko ditambah premi risiko ekuitas dan premi risiko negara. Setiap guncangan IHSG dapat dipetakan ke salah satu komponen itu, dan pada 2026 penggerak utamanya ada di penyebut. Paling tidak ada 3 (tiga) lapis yang dianggap berkontribusi signifikan yakni global, makro-fiskal domestic dan struktur dan tata kelola pasar. Ketiga lapis bertemu pada arus modal asing. Akhir Agustus, saham milik investor asing bernilai Rp2.949 triliun, dibanding Rp4.385 triliun milik investor lokal. Dengan porsi sekitar 40 persen, asing adalah penentu harga marjinal. Hingga 9 Oktober, jual bersih asing sepanjang tahun telah mencapai Rp84,99 triliun, sebelum guncangan MSCI kedua.IHSG adalah satu angka yang memadatkan jutaan keputusan tentang masa depan. Karena itu, perubahannya perlu dibaca sebagai sinyal, bukan sekadar skor harian. Setidaknya ada tiga makna yang tersirat dari pergerakan 2026. Pertama, jarak antara pasar dan ekonomi riil. Ekonomi masih tumbuh di atas 5 persen pada triwulan II 2026, sementara indeks kehilangan sekitar 37 persen nilainya. Divergensi ini menunjukkan bahwa yang runtuh bukan ekspektasi laba, melainkan tingkat imbal hasil yang dituntut investor. Sebuah ilustrasi sederhana dengan model Gordon membantu. Bila selisih antara imbal hasil yang dituntut dan pertumbuhan dividen semula 6 persen, penurunan harga 37 persen setara dengan selisih itu melebar menjadi sekitar 9,5 persen. Artinya, pasar kini menuntut tambahan premi sekitar 3,5 poin persentase untuk memegang aset Indonesia, dengan asumsi ekspektasi laba relatif tetap.Kedua, pemulihan belum tentu berarti kepercayaan pulih. IHSG melonjak 5,65 persen pada 20 Oktober, dipimpin saham bank besar, setelah otoritas bursa mengumumkan langkah respons dan Danantara mulai membeli saham BUMN. Namun, Ketua OJK sendiri mengakui dana asing masih terus keluar dan indeks bertumpu pada kekuatan domestik.
Baca juga