Prof Dr Mursalim Nohong, akademisi Unhas

Pantulan yang ditopang pembeli domestik dan institusi negara menahan kepanikan, tetapi tidak menjawab pertanyaan MSCI. 

Pola serupa terlihat pada Agustus: asing tercatat jual bersih Rp3,47 triliun di pasar reguler, tetapi beli bersih di pasar negosiasi. 

Transaksi blok tidak sama dengan minat organik.

Ketiga, kerugian kekayaan yang menjalar ke biaya modal. 

Dari puncak sekitar Rp16.000 triliun hingga Rp9.157 triliun pada 16 Oktober, sekitar Rp6.800 triliun nilai pasar menguap, kira-kira seperempat PDB nominal 2026. 

Kerugian ini dipikul dana pensiun, asuransi, BPJS Ketenagakerjaan, dan lebih dari 20 juta investor ritel. 

Lebih jauh, harga saham yang tertekan menaikkan biaya modal ekuitas, menunda penawaran umum perdana, dan memaksa korporasi kembali bergantung pada kredit bank di tengah suku bunga tinggi. 

Pasar modal yang dimaksudkan sebagai sumber pembiayaan pembangunan berubah menjadi sumber ketidakpastian.  

Guncangan 2026 mengubah apa yang dicari investor. 

Selama reli 2025, pasar membayar mahal untuk cerita pertumbuhan dan saham-saham yang naik berlipat. 

Kini preferensi bergeser ke tiga hal: likuiditas, transparansi, dan kemampuan keluar kapan saja. 

Bila Indonesia keluar dari indeks pasar berkembang, penjualan terjadi tanpa memandang kualitas perusahaan. Investor aktif bereaksi lebih dulu dengan mengurangi eksposur sebelum keputusan final untuk menghindari antrean jual. 

Itu sebabnya saham paling likuid justru paling dalam dilepas. 

Pada 16 Oktober, BBCA turun 14,81 persen, dan sejak awal tahun BBCA menjadi saham dengan jual bersih asing terbesar. 

Yang dijual bukan yang terburuk, melainkan yang paling mudah dijual. 

Karena sumber masalah IHSG adalah kelembagaan, maka obatnya juga harus kelembagaan. 

Menopang indeks dengan pembelian besar hanya membeli waktu yang menurunkan premi risiko adalah perubahan aturan yang kredibel dan dapat diverifikasi pihak luar. 

Terkait dengan sejumlah kekhawatiran yang berkembang, maka pemerintah seharusnya tidak berbalas pantun dengan MSCI tetapi lebih berorientasi pada implementasi dengan cara:

1. Buka data pemilik manfaat akhir. Data free float dan kepemilikan dari KSEI harus dipublikasikan dengan metodologi yang sejalan dengan standar penyedia indeks global, sehingga perbedaan persepsi seperti pada Januari tidak terulang.

2. Tegakkan hukum atas perdagangan terkoordinasi secara cepat dan terbuka. 

3. Satu kasus yang diputus tuntas lebih meyakinkan daripada sepuluh pernyataan komitmen.

4. Jadikan stabilisasi pasar berbasis aturan. Pembelian oleh Danantara atau dana negara lain perlu memiliki pemicu, batas, dan jadwal keluar yang diumumkan, agar tidak dibaca sebagai penyangga harga yang mengaburkan sinyal pasar.

5. Pulihkan jangkar makro-fiskal. Disiplin defisit dan independensi bank sentral menurunkan premi risiko kedaulatan yang menjadi dasar seluruh premi lainnya.

Secara psikologis, IHSG bergerak karena dua hal yakni fakta yang berubah dan cara pasar menafsirkan fakta itu. Kejatuhan Oktober 2026 menunjukkan porsi kedua bisa jauh lebih besar. 

Pada 16 Oktober tidak ada laba emiten yang berubah dan tidak ada kebijakan yang berlaku. 

Yang ada hanya dibukanya konsultasi MSCI, dan keputusan finalnya baru keluar paling lambat Juni 2027. 

Meski begitu, indeks jatuh 11,57 persen dalam sehari. Selisih antara besarnya reaksi dan kecilnya perubahan fundamental itulah ruang psikologi pasar. 

Berikut beberapa mekanisme yang menjelaskannya. 

Ketidakpastian lebih menakutkan daripada risiko. 

Investor masih bisa menghitung risiko yang peluangnya diketahui. Ketidakpastian (ambiguity) tidak bisa dihitung. 

Status Standalone Market adalah wilayah yang jarang dikenali kapan berlaku, seberapa besar dana keluar, dan apakah bisa dibatalkan, semuanya belum jelas. 

Dalam keadaan seperti ini investor cenderung keluar dulu dan bertanya kemudian. 

Investor tidak sedang menilai Indonesia memburuk. 

Investor menghindari keadaan yang tidak bisa diukur. 

Implikasinya bagi kebijakan, psikologi pasar tidak bisa dibujuk dengan pernyataan optimistis. 

Yang bekerja adalah mengurangi ketidakpastian. 

Untuk itu diperlukan komitmen yang jelas, data kepemilikan yang bisa diperiksa pihak luar, penegakan hukum yang terlihat, dan aturan stabilisasi yang transparan. 

Begitu ketidakpastian berubah menjadi risiko yang bisa dihitung, investor kembali menilai dengan kalkulasi, bukan dengan rasa takut. 

Inti strateginya adalah mengubah ketidakpastian menjadi risiko yang bisa dihitung. 

Investor tidak menuntut semua kabar baik. 

Yang dibutuhkan adalah kejelasan tentang apa yang akan terjadi, kapan, dan bagaimana memeriksanya.

Pergerakan IHSG kembali lebih dipengaruhi laba emiten daripada berita kelembagaan, dan arus modal asing di pasar reguler berbalik menjadi beli bersih. 

Selama dua hal itu belum terjadi, ketidakpastian masih menjadi penentu harga. (*)



Baca juga