Pentagon
LITERASI-ONLINE.COM - Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon akhirnya "mengakui" besarnya kerugian yang diderita militer AS selama perang lawan Iran.Salah satu pengakuan Pentagon adalah menipisnya stok amunisi militer AS, karena terkuras selama konflik lawan Iran.Terutama stok rudal sebagai amunisi utama untuk penangkal serangan udara. Besarnya kerugian AS itu terungkap dari laporan terbaru pengawas internal Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).Laporan yang dirilis pada Senin (14/9/2026) itu mengungkap rincian resmi mengenai kerusakan aset militer dan fasilitas diplomatik AS sejak akhir Februari hingga Juni 2026.Militer AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026.Militer Iran melancarkan serangan balasan yang menghancurkan fasilitas-fasilitas militer AS di sejumlah negara Timur Tengah.Dalam laporan atau dokumen itu disebutkan, militer AS kehilangan puluhan pesawat.AS juga kehilangan sedikitnya 30 drone MQ-9 Reaper yang harganya miliaran rupiah per unit. Ratusan bangunan dan struktur di berbagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk hancur total. Laporan resmi pengawas internal Pentagon ini mematahkan pernyataan-pernyataan Presiden AS Donald Trump yang selama ini mengklaim kemenangan besar atas Iran.Sebelumnya, Donald Trump dan pejabat pemerintah AS menyebut sebagian besar serangan balasan Iran dapat digagalkan.Donald Trump juga berkali-kali membantah isu amunisi AS semakin menipis karena konflik berkepanjangan lawan Iran.Kini, bantahan Donald Trump dan pejabatnya berbanding terbalik dengan fakta yang ditemukan Pentagon. Korban JiwaSelain kerugian materil, AS juga kehilangan sejumlah prajurit yang tewas karena serangan balasan Iran.Data Pentagon menyebutkan, setidaknya 11 personel militer AS tewas dalam pertempuran.Sedangkan 7 prajurit lain meninggal dalam insiden nontempur. Rincian Korban TewasPelabuhan Shuaiba, Kuwait (1 Maret 2026): 6 personel tewas.
Baca juga