Mursalim Nohong
Kepemilikan asing di SBN memang menyusut ke sekitar 13% dari total outstanding, namun instrumen SRBI mencatat inflow asing lebih dari Rp200 triliun sepanjang tahun berjalan — menunjukkan struktur pasar yang kini lebih ditopang investor domestik dan karenanya lebih tahan terhadap gejolak politik jangka pendek seperti reshuffle menteri.Bagi pelaku pasar, faktor penenang utama adalah kontinuitas. Herditya Wicaksana, menilai pasar akan mencermati transisi ini untuk mengonfirmasi kredibilitas tata kelola fiskal, dengan fokus baru Kemenkeu yang diperkirakan pada disiplin anggaran, pengendalian defisit, dan mitigasi risiko harga energi global — sekaligus membuka probabilitas kenaikan BI rate demi menjaga spread yield di tengah ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate ke 3,75–4,00%.Masyarakat dan pasar sesungguhnya menantikan komitmen untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan keuangan negara. Dalam jangka pendek, yang idealnya segera ditempuh Suahasil Nazara dalam beberapa hari pertama menjabat, misalnya: 1) Komunikasi publik yang cepat untuk meredam ketidakpastian. Pelantikan yang terkesan mendadak menciptakan celah informasi yang sempat memicu aksi jual di bursa sebelum berbalik arah. Langkah pertama yang paling mendesak adalah pernyataan resmi dari Kemenkeu — bukan sekadar seremonial, tetapi berisi sinyal konkret bahwa kebijakan fiskal (APBN, target defisit, program prioritas) tidak berubah drastis. Pasar bereaksi paling tajam terhadap ketidakpastian, bukan terhadap pergantian personel itu sendiri. 2) Jaga kelangsungan operasi stabilisasi pasar obligasi. Purbaya sebelumnya aktif melakukan intervensi pembelian SBN saat yield melonjak. Menteri baru perlu memastikan mekanisme ini tidak terhenti pada masa transisi, mengingat kepemilikan asing di SBN sudah menyusut menjadi sekitar 13%. Pasar kini lebih bergantung pada kepercayaan investor domestik yang sensitif terhadap sinyal kontinuitas kebijakan. 3) Pantau dan mitigasi dampak harga energi global terhadap APBNLonjakan harga minyak Brent ke atas US$107/barel akibat eskalasi di Timur Tengah menambah beban subsidi energi dan tekanan defisit. Langkah jangka pendek mencakup evaluasi cepat terhadap asumsi harga minyak dalam APBN berjalan serta opsi mitigasi (lindung nilai, penyesuaian subsidi terarah) agar tidak mengganggu disiplin fiskal. 4) Konsolidasi tim dan validasi kebijakan yang sedang berjalan. Prioritasnya adalah memastikan kebijakan yang sudah berjalan di era Purbaya (termasuk operasi pasar SBN, koordinasi APBN dengan DPR) tetap konsisten, sambil memberi ruang evaluasi terbatas tanpa menimbulkan kesan "reset kebijakan" yang bisa memicu kegugupan pasar. 5) Kelola ekspektasi lembaga rating dan investor institusional. Pergantian menteri keuangan yang terkesan mendadak berisiko memicu pertanyaan dari lembaga pemeringkat kredit dan investor jangka panjang. Pertemuan atau pernyataan yang ditargetkan kepada mereka yang menegaskan arah kebijakan fiskal jangka menengah tetap sama akan membantu menahan potensi downgrade sentimen atau kenaikan credit spread Indonesia. Inti dari semua langkah ini adalah kontinuitas. Pasar sudah menunjukkan sinyal awal bahwa Suahasil diterima karena rekam jejaknya yang dikenal, bukan karena euforia perubahan. Tugas jangka pendeknya adalah mengonfirmasi sinyal itu melalui tindakan cepat dan konsisten, bukan melalui gebrakan kebijakan baru yang justru bisa menimbulkan keraguan di tengah kondisi global yang masih bergejolak. (*)
Baca juga