Donald Trump kampanye di hadapan pendukungnya pada Pilpres AS 2024.

LITERASI-ONLINE.COM - Berdasarkan hasil survei, kepercayaan publik Amerika Serikat (AS) kepada Presiden Donald Trump semakin menurun.

Warga AS tidak lagi percaya janji-janji Donald Trump, karena lebih banyak omong kosong.

Bahkan menurut hasil survei terbaru dari CNN dan University of Massachusetts Amherst (Maret-April 2026), angka kepuasan publik (approval rating) Trump anjlok ke titik terendah 33 persen.

Fenomena ini menjadi sinyal kuat adanya kekecewaan serius warga yang dulu memilihnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2024.

Menurut survei itu, responden yang sebelumnya jadi pendukung fanatik Donald Trump kini justru menyesal memilih kandidat usungan Partai Republik tersebut.

Pada awal pemerintahan Trump, 75 persen pemilih fanatik Trump sangat yakin dengan pilihan mereka.

Angka 75 persen itu merupakan hasil survei dua tahun lalu, tepatnya pada April 2025.

Namun, berdasarkan hasil survei terbaru (Maret-April 2026), pemilih fanatik yang masih percaya Trump turun menjadi 62 persen.

Sebanyak 5 persen pemilih yang semula fanatik kini secara terang-terangan mengatakan akan memilih kandidat lain jika pemilu diulang hari ini.

Sekitar 16 persen hingga 20 persen pemilih Trump kini mengaku memiliki "perasaan campur aduk" terhadap performa sang Presiden.

Harga Naik Tajam

Pada Pilpres 2024, salah satu daya tarik kampanye Trump adalah janji membuat rakyat lebih kaya.

Tapi sekarang, kenyataannya situasi ekonomi malah membuat warga AS pusing.

Gambaran itu tercermin dari hasil survei terbaru CNN, yakni:

Harga barang naik (Inflasi): 71 persen warga AS merasa Trump gagal mengatasi harga-harga yang makin mahal.


Baca juga