Warga AS unjuk rasa memprotes berbagai kebijakan Presiden Donald Trump sambil membawa spanduk bertuliskan "No Kings". (foto: Reuters)

"Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan sedang tidak baik," tegasnya.

Di Kota West Bloomfield, Michigan, orang-orang tidak pedu;i suhu di bawah titik beku untuk berdemonstrasi. 

Sedangkan di ibu kota AS, Washington, ribuan demonstran sambil membawa spanduk bertuliskan "Trump Harus Mundur Sekarang!" dan "Lawan Fasisme" berbondong-bondong ke National Mall.

"Dia (Trump) terus berbohong, berbohong dan berbohong tapi tidak ada yang mengatakan apa pun. Jadi ini situasi yang mengerikan yang kita alami," kata seorang pensiunan berusia 67 tahun, Robert Pavosevich, kepada AFP.

Unjuk rasa anti-Trump bahkan telah meluas hingga ke luar perbatasan AS,

Pasa akhir pekan ini, terjadi demonstrasi di kota-kota Eropa seperti Amsterdam, Madrid, dan Roma, di mana 20 ribu orang berbaris di bawah pengawasan ketat polisi.

Selama berlangsung unjuk rasa, di AS maupun kota-kota besar Eropa, seruan "No Kings" terus menggema.

Slogan "No Kings" merujuk pada kejengkelan warga pada gaya kepemimpinan Trump yang otoriter.

Sebagai informasi, protes nasional "No Kings" pertama terjadi Juni 2025 lalu pada ulang tahun Trump yang ke-79 dan bertepatan dengan parade militer yang ia selenggarakan di Washington. Ketika itu, jutaan orang turun ke jalan, dari New York hingga San Francisco.

Protes kedua, pada bulan Oktober 2025, menarik sekitar tujuh juta demonstran. (*)



Baca juga