Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat, Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program psikoedukasi dan literasi digital bagi siswa UPT SDN 5 Appasarenge, Kabupaten Bulukumba.

LITERASI-ONLINE.COM, BULUKUMBA - Perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang baru bagi anak untuk belajar, berkreasi, dan berinteraksi. 

Akses terhadap gim daring, media sosial, serta berbagai platform digital semakin mudah dijangkau oleh anak usia sekolah dasar. 

Namun demikian, ruang digital juga menyimpan tantangan yang memerlukan perhatian. 

Beberapa fenomena seperti meningkatnya perilaku agresif, penggunaan bahasa yang tidak santun, hingga perundungan di dunia maya, dapat terjadi karena pengaruh gim online. 

Kondisi ini menunjukkan penguatan literasi digital perlu berjalan seiring dengan pembentukan kemampuan mengelola emosi dan karakter anak sejak dini.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat, Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan program psikoedukasi dan literasi digital bagi siswa UPT SDN 5 Appasarenge, Kabupaten Bulukumba.

Program bertajuk G-STAMP (Gamer Sehat Tanpa Makian dan Perundungan) dirancang sebagai media edukasi untuk membangun kebiasaan bermain gim yang sehat, aman, dan bertanggung jawab melalui pendekatan kesehatan mental, penguatan karakter, serta literasi digital.

Ketua Tim, Dr. Tuti Seniwati, S.Kep., Ns., M.Kes., menjelaskan program tersebut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kesehatan mental dan pengendalian emosi, serta SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan literasi digital anak.

"Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang memberikan banyak manfaat sekaligus menghadirkan berbagai tantangan. Karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi secara santun, dan memahami etika berinteraksi di ruang digital. Melalui G-STAMP, kami ingin membantu siswa menjadi pengguna teknologi yang cerdas, sehat, dan bertanggung jawab," jelas Dr. Tuti.

Menurut Dr. Tuti, kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup diukur dari keterampilan mengoperasikan perangkat digital.

Anak juga perlu memahami konsekuensi dari setiap perilaku yang dilakukan di ruang digital, termasuk pentingnya menghargai orang lain, menghindari ujaran yang menyakiti, serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi yang memicu frustrasi saat bermain gim.

Pembiasaan tersebut diharapkan membentuk perilaku digital yang lebih positif dan terbawa hingga kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan tersebut, siswa memperoleh edukasi mengenai manfaat dan risiko penggunaan gim daring, mengenali perilaku toxic gaming seperti makian dan perundungan, serta memahami pentingnya menciptakan lingkungan bermain yang aman, nyaman, dan saling menghargai. 

Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik sekaligus mendorong mereka menerapkan perilaku positif saat menggunakan teknologi digital.

Sebagai bagian dari pembelajaran, tim juga memperkenalkan teknik relaksasi sederhana untuk membantu siswa mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi yang memicu kemarahan saat bermain gim. 

Latihan tersebut meliputi teknik pernapasan sadar dan jeda selama sepuluh detik sebelum memberikan respons. 

Pendekatan ini membantu anak mengenali perubahan emosinya, menenangkan diri, kemudian mempertimbangkan respons yang lebih tepat sebelum bertindak.

Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun regulasi emosi yang berkontribusi terhadap kesehatan mental anak.

Kepala UPT SDN 5 Appasarenge, Arbain, A.Ma., S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan program yang dinilai relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital.

Menurutnya, penguatan literasi digital perlu diimbangi dengan pembentukan karakter agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

"Materi yang diberikan sangat bermanfaat karena membantu siswa memahami cara menggunakan teknologi secara bijak, menjaga etika dalam berkomunikasi, serta mengendalikan emosi saat bermain gim. Kami berharap edukasi seperti ini dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter anak," jelas Arbain.

Melalui program ini, Unhas mendorong penguatan peran sekolah sebagai ruang pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kesehatan mental, dan kecakapan digital peserta didik. 

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi muda yang mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, beretika, dan bertanggung jawab.

Kegiatan berlangsung  Kamis (6/8) di UPT SDN 5 Appasarenge, Kabupaten Bulukumba. 

Program diikuti oleh 50 siswa kelas IV, V, dan VI serta dihadiri kepala sekolah dan para guru sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan yang mendukung kesehatan mental dan literasi digital anak.

Adapun tim pengabdian FKep Unhas, yakni : 

1. Dr. Tuti Seniwati, S.Kep., Ns., M.Kes.

2. Dr. Suni Hariati, S.Kep.,Ns.,M.Kep.

3. Dr. Yuliana Syam, S.Kp., Ns, M.Si

4. Athina Saraya, S.Psi., M.Sc.

5. Annida Aulia Asysyalji

6. Putri Melati

7. Sitti Nurul Khafifah

8. Darnisa Indriani Dhanial

9. Nurayina Dar

(*/fkep/mir)



Baca juga