Warga New York, AS, menggelar aksi menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Demonstran membawa poster bergambar Donald Trump serta spanduk bertuliskan “Stop the War on Iran!” (REUTERS/Eduardo Munoz)

Sebelumnya, CNN pada Kamis (26/3/2026) memberitakan, survei terbaru dari Ipsos yang dirilis pada Selasa (24/3/2026) menunjukkan tingkat dukungan kepada Trump dalam kebijakan ekonomi mencapai titik terendah sepanjang masa, yakni 29 persen. 

Angka ini turun dari kisaran 34–36 persen pada Januari dan Februari 2026 lalu. 

Angka ini bahkan lebih buruk dibandingkan capaian mantan Presiden Joe Biden yang sebelumnya juga menghadapi tekanan ekonomi, dengan angka terendah di 32 persen. 

Hal yang paling mencolok adalah perubahan di kalangan Partai Republik yang merupakan pendukung Trump.

Sebanyak 27 persen pemilih Republik sebelumnya tidak setuju dengan kinerja Trump soal biaya hidup, kini naik menjadi 34 persen. 

Bahkan ketidaksetujuan terkait inflasi melonjak dari 28 persen menjadi 40 persen. 

Padahal, kelompok ini merupakan basis utama dukungan Trump. 

Sementara hasil Survei AP-NORC menunjukkan 45 persen warga AS 'sangat' atau 'cukup' khawatir tidak mampu membeli bahan bakar dalam beberapa bulan ke depan.

Sebanyak 67 persen responden menilai penting bagi pemerintah untuk mencegah kenaikan harga minyak dan gas. 

Bahkan, menjaga harga energi tetap stabil dianggap lebih penting dibandingkan mencegah Iran mengancam Israel, yakni sebesar 39 persen, atau mengganti pemerintahan Iran, yakni sebesar 33 persen. 

Hasil Survei CBS News-YouGov juga menunjukkan hal serupa, yakni perang Iran memperburuk pesimisme publik terhadap ekonomi. 

Sebanyak 63 persen warga AS memperkirakan perang akan memperburuk ekonomi dalam jangka pendek.

Bahkan dalam jangka panjang, lebih banyak responden yang memperkirakan ekonomi tetap melemah. 

Untuk harga energi, 58 persen responden memperkirakan harga minyak dan gas akan meningkat dalam jangka panjang.

Urusan Luar Negeri

Masalah lain adalah persepsi warga AS bahwa Trump terlalu fokus pada isu luar negeri. 

Sebelum perang lawan Iran, 45 persen warga AS menilai Trump terlalu fokus pada urusan internasional. 

Sekarang angka itu melonjak menjadi 58 persen. 

Survei awal ini menunjukkan bahwa publik Amerika sangat khawatir terhadap dampak perang lawan Iran terhadap kehidupan mereka. (*)



Baca juga