Selat Hormuz

LITERASI-ONLINE.COM - Keputusan militer Iran "menutup" Selat Hormuz membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meradang.

Militer Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer AS-Israel ke Kota Teheran pada 28 Februari 2026.

Penutupan selat itu mengguncang pasar energi global. 

Terjadi lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara, termasuk di Amerika Serikat.    

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara‑negara Teluk Persia ke pasar global, terhenti secara de facto.

Kondisi ini berdampak langsung pada ekspor dan produksi minyak di kawasan itu dan mengancam stabilitas pasar energi global. 

Para eksekutif perusahaan minyak, seperti CEO ExxonMobil Darren Woods, CEO Chevron Mike Wirth, dan CEO ConocoPhillips Ryan Lance, telah memperingatkan bahwa gangguan lalu lintas pengiriman minyak dan gas alam cair akan terus menciptakan ketidakstabilan di pasar energi dunia.

Ajakan Trump Ditolak

Presiden AS Donald Trump berupaya mendorong sekutu Eropa dan mitra di dunia Arab untuk bergabung dengan AS membuka kembali Selat Hormuz. 

Pada Minggu (15/3/2026), Donald Trump meminta Jepang, China, Prancis, Korea Selatan, Inggris, dan sejumlah negara lainnya untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk memulihkan jalur lalu lintas kapal-kapal tanker.

Namun, ajakan Donald Trump ditolak oleh negara-negara itu.

Permintaan atau ajakan Trump itu terungkap dalam wawancara dengan Financial Times (FT).

Bukan sekadar ajakan, namun Trump bahkan menekan negara anggota NATO untuk berperang di Selat Hormuz.


Baca juga