Menurut Prof Jiang, kunci utamanya bukan sekadar jumlah tentara, melainkan topografi ekstrem yang dimiliki Iran."Iran adalah sebuah benteng alami. Geografinya didominasi oleh deretan pegunungan yang sangat terjal," katanya. Ia menjelaskan, keunggulan teknologi satelit dan serangan udara AS akan tumpul menghadapi medan seperti ini. Sebab, di gunung-gunung itulah Iran menyimpan perangkat militernya.Pangkalan roket, bunker drone, maupun peluncur rudal balistik yang sulit terdeteksi lawan.Prof Jiang menekankan, jika AS memutuskan untuk masuk, mereka tidak akan menghadapi perang terbuka di padang pasir yang datar, melainkan perang atrisi di celah-celah gunung yang mematikan. "Apakah tentara Amerika bisa bertahan dari hujan rudal yang muncul dari balik gunung? Jawabannya jelas: tidak!," tegasnya.
Kekuatan ProksiIa menambahkan, perang melawan Iran akan menjadi "lubang hitam" bagi anggaran dan sumber daya militer AS. Dengan jalur logistik yang sangat panjang melintasi samudera, pasukan AS akan sangat rentan terhadap gangguan.Apalagi, Iran memiliki kelompok proksi yang akan menjadi lawan lain bagi militer AS.Proksi Iran seperti Houthi, Hizbullah, dan Hamas sekarang telah bertransformasi menjadi kekuatan militer yang memahami betul kelemahan mentalitas militer AS. Menurut Prof Jiang, kelompok-kelompok proksi ini tidak perlu mengalahkan AS dalam pertempuran langsung.Mereka hanya perlu memperlama konflik hingga ekonomi dan dukungan politik di dalam negeri Amerika Serikat runtuh dengan sendirinya.Terbukti hanya sepekan perang lawan Iran, militer AS sudah mengeluarkan biaya triliunan rupiah.Prof Jiang menilai bahwa AS sering kali meremehkan ketahanan domestik Iran. Padahal, medan pegunungan, ditambah dengan perlawanan rakyat yang militan, dapat mengubah pasukan penyerang menjadi sasaran empuk di wilayah Iran.
Perubahan Tatanan DuniaProfesor Jiang juga mengingatkan bahwa perang ini bukan sekadar konflik regional biasa. Jika prediksi kekalahan AS itu benar-benar terjadi, maka situasi ini akan menjadi penanda berakhirnya dominasi unipolar barat. Dunia yang kita kenal hari ini tidak akan lagi sama setelah perang AS-Israel lawan Iran berakhir. (*)