Drone Shahed-135 Iran yang dipakai dalam serangan balasan lawan AS-Israel. (Foto: AFP/ATTA KENARE

LITERASI-ONLINE.COM - Pejabat pemerintah Amerika Serikat (AS) mengakui bahwa sistem pertahanan udara mereka kewalahan mencegat  drone serang milik Iran. 

Pengakuan itu terungkap dalam rapat tertutup antara pemerintah dan anggota Kongres AS di Capitol Hill, Selasa (3/3/2026) waktu setempat.

Meski tertutup, beberapa orang yang ikut rapat "membocorkan" isi pembicaraan dalam pertemuan ini. 

Militer gabungan AS dan Israel menyerang Kota Teheran dan lokasi lain di Iran pada 1 Maret 2026.   

Militer Iran kemudian merespons dengan serangan balasan besar-besaran.

Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke wilayah yang diduduki Israel. Mengguncang Kota Yerusalem dan Tel Aviv.

Iran juga menyasar pangkalan militer AS yang berada di kawasan Teluk, seperti di Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Serangan balasan Iran menewaskan sejumlah tentara AS dan merusak properti militer AS.

Dalam pertemuan dengan anggota kongres itu terungkap bahwa yang paling sulit diatasi adalah drone serang Iran.   

Drone serang satu arah Iran disebut menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan udara AS dan Israel, karena cara terbangnya yang berbeda dengan rudal balistik. 

Terutama jenis drone Shahed, karena pergerakannya sulit diprediksi. 


Baca juga