KonflIk perbatasan Thailand dan Kamboja

Insiden terbaru ini menandai untuk pertama kalinya tentara Thailand menggunakan gas air mata dan peluru karet di perbatasan kedua negara, sejak kesepakatan gencatan senjata.

Menteri Informasi Kamboja, Neth Pheaktra, menyebut sedikitnya 23 warga Kamboja, termasuk seorang tentara dan seorang biksu Buddha, terluka pada insiden itu.

Bentrokan antara tentara Thailand dan warga Kamboja itu terjadi di wilayah perbatasan sisi Kamboja, tepatnya di Provinsi Banteay Meanchey.

"Ini merupakan pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Thailand," jelas Neth Pheaktra dalam pernyataan resmi kepada media.

Sedangkan PM Kamboja, Hun Manet, langsung mengirimkan surat ke Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres, yang isinya menyebut Thailand telah "memperluas zona konflik dengan memasang kawat berduri dan barikade".

Hun Manet juga menyebut tentara Thailand menggusur warga sipil Kamboja dari tanah yang telah lama mereka huni di perbatasan Provinsi Bantaey Meanchey, sejak bulan lalu.

Dalam suratnya itu, Hun Manet mengungkapkan, lebih dari 25 keluarga Kamboja dicegah untuk kembali ke rumah-rumah mereka di area perbatasan yang disengketakan.

Ia menambahkan, militer Thailand telah mengancam akan melakukan penggusuran lebih lanjut yang berpotensi mengancam ratusan rumah tangga di wilayah itu.

Sementara juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, mengatakan ratusan warga sipil Kamboja yang terlibat dalam bentrokan itu secara sengaja dan ilegal menduduki wilayah Thailand. (*)


Baca juga