Penjabat Perdana Menteri (PM) Thailand, Phumtham Wechayachai, juga menyatakan setuju untuk memulai perundingan gencatan senjata sesegera mungkin.Kementerian Luar Negeri Thailand juga mengingatkan militer Kamboja agar tidak menargetkan rumah-rumah warga sipil di Provinsi Surin. Thailand menegaskan, perundingan tidak akan menghasilkan apa-apa jika militer Kamboja terus menyasar warga sipil. Kedua negara memiliki perbatasan sepanjang 800 kilometer.Konflik pada Juli 2025 ini merupakan yang terburuk, karena mengarah kepada pertempuran terbuka.Saling serang melibatkan roket, tank, jet tempur, dan pasukan infanteri.Otoritas Thailand melaporkan 7 tentara dan 13 warga sipil tewas sejak perang pecah pekan ini.Sedangkan pihak Kamboja melaporkan 5 tentara dan 8 warga sipil tewas. Konflik berdarah ini juga memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Sekitar 138.000 warga Thailand telah dievakuasi dari zona perbatasan.Di pihak Kamboja, sekitar 80.000 warga memilih mengungsi dari rumah mereka.
Seruan PBBPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan penghentian kekerasan antara militer kedua negara. Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Jumat (25/7) di New York, Duta Besar Kamboja untuk PBB, Chhea Keo, menegaskan keinginan negaranya untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur damai dan gencatan senjata.Dalam keterangan terpisah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Antonio Guterres, menyerukan kepada kedua negara segera menyetujui gencatan senjata dan membuka perundingan. (*)