Warga Amerika Serikat (AS) menghadiri pertunjukan teater yang disebut "Three Ring Circus", sebagai bagian dari unjuk rasa bertajuk "No Kings" kepada Presiden AS Donald Trump, di Fargo, North Dakota, AS, Sabtu (14/6/2025) waktu setempat. (REUTERS/Dan Koeck)

LITERASI-ONLINE.COM - Jutaan orang di seluruh negara bagian Amerika Serikat (AS) turun ke jalan unjuk rasa menentang gaya kepemimpinan Presiden AS, Donald Trump, akhir pekan ini.

Demo bertajuk "No Kings" itu merupakan bentuk protes warga yang menilai Donald Trump otoriter layaknya seorang raja.

Penilaian otoriter itu merujuk pada beberapa kebijakan Trump yang mengundang kontoversi.

Unjuk rasa berlangsung pada sekitar 2.100 lokasi di seluruh negeri atau negara bagian.

Unjuk rasa warga ini bertepatan ketika presiden AS menggelar parade militer di Washington.

The Guardian memberitakan, Minggu (15/6/2025), koalisi yang terdiri dari lebih dari 100 kelompok bergabung bersama-sama merencanakan unjuk besar-besaran ini.

Pekan ini, Trump menghadapi gelombang kritik dari warga dan pejabat negara bagian, karena mengerahkan ribuan personel Garda Nasional dan marinir untuk menindak imigran yang demo di Kota Los Angeles, California.

Penyelenggara aksi mengungkapkan, minat warga untuk ikut demo pada Sabtu (14/6/2025) waktu setempat sangat tinggi.

Termasuk unjuk rasa di sebuah lokasi di dekat perkebunan Mar-a-Lago milik Trump di Florida selatan.

Penyelenggara demo bertajuk No Kings memperkirakan, jumlah warga yang turun ke jalan mencapai angka jutaan.

Hingga Minggu (15/6), masih berlangsung unjuk rasa menentang kebijakan Trump pada beberapa titik di 50 negara bagian AS. 

Di New York misalnya, jumlah warga yang ikut demo mencapai angka 200.000 orang.

Sedangkan di Philadelphia diperkirakan berjumlah 100.000 orang. 

Bahkan di beberapa kota dengan jumlah penduduk sedikit, warganya sangat antusias.

Contohnya Kota Pentwater, Michigan, tercatat 400 orang bergabung dengan aksi protes dari total penduduk sekitar 800 orang.

Sebagian besar demo berlangsung damai, namun di Los Angeles dan Portland sempat terjadi ketegangan antara warga dan petugas keamanan. (*)


Baca juga