Sidang Isbat
Artinya, secara teori hilal tidak mungkin bisa diamati.Ia menambahkan, posisi hilal juga belum memenuhi kriteria imkanur rukyat berdasarkan musyawarah Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.Namun, pemerintah tetap akan melakukan pemantauan hilal di 33 titik di seluruh wilayah Indonesia untuk verifikasi atas perhitungan hisab. Hasil rukyatul hilal inilah yang akan menjadi pedoman Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam mengumumkan hasil sidang isbat penentuan 1 Syawal 1446 Hijriah.Prediksi Peneliti BRIN dan BMKGSebelumnya, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin juga memprakirakan awal Syawal 1446 H atau Idul Fitri akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Ia menjelaskan, prediksi itu sudah mengikuti kriteria MABIMS.Menurutnya, garis tanggal awal Syawal 1446 H berada di wilayah Benua Amerika.Karena itu, saat Magrib atau matahari terbenam pada 29 Maret, hilal tidak mungkin terlihat di Indonesia.“Maka 1 Syawal 1446 H menurut kriteria MABIMS adalah 31 Maret 2025,” kata Thomas dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Facebook pribadinya.Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sudah merilis prediksi hilal untuk penentuan lebaran Idul Fitri 2025 Menurut prakiraan BMKG, kemungkinan besar perayaan Idul Fitri 2025 di Indonesia serentak pada 31 Maret. Sesuai data BMKG, pada 29 Maret 2025, tinggi hilal di seluruh Indonesia masih berada di bawah kriteria MABIMS, dengan ketinggian maksimal hanya -1,07 derajat dan elongasi berkisar 1,06 hingga 1,61 derajat.Hilal pada 29 Maret 2025 belum memenuhi syarat untuk penetapan awal Syawal.Pada 30 Maret 2025, hilal sudah memenuhi kriteria dengan ketinggian 7,96 hingga 11,48 derajat dan elongasi 13,02 hingga 14,83 derajat. Jika mengikuti kriteria ini, maka 1 Syawal 1446 H atau Idul Fitri 2025 jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. (*)
Baca juga