Sebanyak 869 peserta dari pengurus cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari 24 Kabupaten/Kota menghadiri Konferensi Provinsi PGRI Sulsel yang berlangsung Rabu-Jumat, 4-6 Desember 2024 di Hotel Claro Makassar.

LITERASI-ONLINE.COM, MAKASSAR -Sebanyak 869 peserta dari pengurus cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari 24 Kabupaten/Kota menghadiri Konferensi Provinsi PGRI Sulsel yang berlangsung Rabu-Jumat, 4-6 Desember 2024 di Hotel Claro Makassar. 

Konferensi Provinsi PGRI Sulsel ini dibuka oleh Pj Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Prof Zudan Arif Fakrulloh, Rabu malam 4 Desember 2024. 

Tampak hadir dalam acara pembukaan, Ketua Pengurus Besar PGRI, Prof. Dr. Supardi US, M.M., M.Pd, Kadis Pendidikan Sulsel, H. Iqbal Nadjamuddin, S.E, Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel, Dr. Andi Ibrahim, S.Pd, M.Pd, perwakilan BBGP Sulsel serta perwakilan Forkompinda Sulsel.

Pj Gubenur Sulsel Prof Zudan pada sambutan pembukaan mengajak seluruh anggota PGRI Sulsel menghadirkan pendidikan yang membahagiakan dengan menciptakan hubungan yang kuat antara guru dan siswa tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan.

Selain itu, harus membangun ekosistem pendidikan dan pembelajaran yang sinergitas sesama tri pusat pendidikan terdiri dari keluarga (informal), sekolah (formal) dan masyarakat (nonformal).

Pada kesempatan itu, Prof Zudan mengajak para guru membantu mengatasi aksi demo dengan mendesain pendidikan yang membahagiakan siswa-siswinya. 

Keseringan aksi demo akan membawa dampak pada kehadiran investor di daerah ini. 

"Sekolah yang membahagiakan para peserta didik akan mudah menebar kasih sayang, bukan tebar kebencian," katanya. 

Murid-murid yang penyayang  tentu tidak mudah menyebar kebencian. 

Membangun peradaban baru dapat dilakukan kalau akhlak yang dikedepakan. 

Selain itu, dia juga mengajak para guru senantiasa mendorong out put pendidilkan semakin baik. 

Juga mengajak mengisi dunia maya dengan informasi yang positif dengan memassifkan media sosial dengan men-share hal-hal yang positif.

Karena kalau tidak diisi hal positif, maka dunia maya itu boleh jadi akan diisi oleh pihak lain dengan informasi  yang kurang baik. 

Sulsel ini harus dibranding pendidikan yang sehat dengan membangun citra positif agar Makassar dan kota lain menjadi tempat yang tepat untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Sama seperti kota lain yakni Yogyakarta, Bandung, Malang dan sebagainya.


Baca juga