LITERASI-ONLINE.COM - Kepala intelijen militer Israel, Mayor Jenderal Aharon Haliva, pada Rabu (21/8) meminta pengampunan dari rakyat Israel karena gagal melindungi mereka dari serangan pejuang Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.
Pada serangan mendadak itu, Hamas berhasil menyandera ratusan warga Israel.Permintaan ampun itu menandai pengunduran diri Mayor Jenderal Aharon Haliva dari jabatannya. Pernyataan mundur Haliva dirilis militer Israel melalui rekaman video. "7 Oktober 2023 merupakan hari yang pahit dan kelam yang saya bawa dalam hati, hati nurani, dan di pundak saya setiap hari dan malam sejak saat itu,” kata Haliva, dalam pernyataannya.“Permintaan maaf tidak akan mengoreksi, menyembuhkan, atau mengembalikan orang-orang terkasih yang telah membayar harga terberat, namun harus diucapkan… Atas nama saya dan seluruh sayap intelijen, saya meminta maaf.”Menurut militer Israel, pada April Haliva sebenarnya sudah meminta untuk dibebastugaskan, dengan alasan “tanggung jawabnya” atas kegagalan mencegah serangan pejuang Hamas.Sedangkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tidak pernah secara resmi meminta maaf atas kegagalan pemerintahannya atau pasukan keamanan negaranya dalam mencegah serangan pejuang Hamas.Ketika itu, serangan Hamas mengakibatkan kematian 1.139 orang, menurut angka resmi Israel. Selain itu, pejuang Hamas juga menyandera 251 warga Israel. Sebagian besar berada di jalur Gaza, Palestina.
Baca: Jet Tempur Israel Salah Sasaran, Ledakan Bom Tewaskan Perwira IDF di GazaMiliter Israel mengatakan, sebanyak 333 tentaranya tewas di Gaza sejak serangan darat dimulai pada 27 Oktober.
Namun, jumlah tentara Israel yang tewas sejak serangan balasan ke Gaza diyakini lebih banyak dari angka yang diungkapkan militer Israel. (*)