Pihak berwenang sudah berhasil membobol ponsel dan laptop Crooks, tapi belum menemukan petunjuk motif pelaku nekad menembak Trump. Hasil wawancara agen FBI dengan keluarga dan teman-teman Croocks juga belum memberi titik terang. Dari hasil pencarian di ponsel dan laptop pelaku, penyidik tidak menemukan hal yang spesifik.Penyidik hanya menemukan ketertarikan Croocks pada game, seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Jika agen Secret Service gagal melumpuhkan Crooks, maka korban tewas dan terluka mungkin lebih banyak.Sebab, di dalam bagasi mobil pelaku terdapat bahan peledak yang dikendalikan Croocks dari jarak jauh. Pihak berwenag juga masih menyelidiki bagaimana cara Croocks merakit alat peledak yang ditemukan di mobilnya. Sebab, dalam aktivitasnya di internet, tidak ditemukan indikasi pelaku belajar merakit alat peledak.
Bekerja di Panti JompoCrooks tinggal bersama orangtuanya di Bethel Park, pinggiran Kota Pittsburgh.Kota ini berjarak sekitar 50 mil ke arah selatan dari lokasi kampanye Trump.Crooks lulus dari Community College of Allegheny County pada Mei 2024 dan bekerja di sebuah panti jompo di dekat rumahnya.Di kalangan tetangga dan di mata rekannya ketika masih sekolah, Crooks dikenal sebagai sosok pendiam. Ia juga jarang berbicara tentang politik. "Dia anak yang baik. Saya tidak tahu apa yang mendorongnya melakukan aksi ini," kata seorang mantan teman kelasnya.Liam Campbell, salah seorang tetangga Crooks, menyebut pria ini jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. (*)