Polisi bentrok dengan demonstran pro-Palestina yang berkemah di kampus UCLA, di Los Angeles, Amerika Serikat, Kamis malam, 2 Mei 2024. (Foto: AP/Jae C. Hong)

LITERASI-ONLINE.COM, AMERIKA - Gelombang unjuk rasa mahasiswa pada kampus-kampus di Amerika Serikat (AS) terus berlanjut.

Ancaman sanksi skorsing dari pihak kampus dan ancaman pidana dari kepolisian, tidak menyurutkan perjuangan pendemo.

Hingga pekan ketiga unjuk rasa di berbagai kampus, tercatat sekitar 2.000 mahasiswa yang ditangkap. 

Beberapa kali terjadi bentrok antara polisi dengan mahasiswa yang bertahan di kampus masing-masing. 

Pada Kamis (2/5/2024) malam, polisi secara paksa membubarkan kerumunan massa pengunjuk rasa pro-Palestina di beberapa kampus.

Polisi juga merubuhkan tenda-tenda milik mahasiswa di lingkungan kampus Universitas California di Los Angeles (UCLA).

Polisi yang datang dengan perlengkapan antihuru-hara, menerobos barisan pengunjuk rasa yang saling bergandengan tangan.

Malam itu, ratusan orang ditangkap di UCLA dan kampus lainnya.

“Saya seorang mahasiswa di sini,” kata Ryan, salah seorang pengunjuk rasa di UCLA yang dibawa oleh polisi dengan tangan terikat.  

Ryan dan mahasiswa lainnya yang ditangkap bersumpah, tidak akan berhenti unjuk rasa hingga tuntutan mereka dipenuhi.

Tuntutan mahasiswa antara lain mendesak dihehentikannya perang di Gaza, Palestina, sebab yang jadi korban adalah wanita dan anak-anak.

Mereka juga menuntut divestasi kampus-kampus dari perusahaan yang mendukung pemerintah Israel. (*)


Baca juga