Program Kosabangsa menyasar kelompok tani sagu Iwal di Kampung Kabuow, Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

LITERASI-ONLINE.COM, PAPUA - Program Kosabangsa menyasar kelompok tani sagu Iwal di Kampung Kabuow, Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Program ini terkait dengan pengolahan empulur sagu menggunakan Parut Sagu berbasis Zero Waste melalui Program Kosabangsa pada kelompok petani sagu Iwal di Kampung Kabuow, Teluk Wondama, Papua Barat.

Dosen Universitas Papua, Dr. Bertha Mangallo, S.Si, M.Si yang didampingi Dosen Universitas Negeri Makassar, tepatnya di Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat, melakukan pengolahan empulur sagu menggunakan mesin parut sagu dalam  pemberdayaan masyarakat mitra petani sagu melalui Program Kosabangsa tahun 2022.

"Dengan menerapkan mesin parut sagu dalam mengolah empulur sagu pada kelompok Tani Sagu Iwal kampung Kabuow,  Kab. Teluk Woudama, Papua Barat,  merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sebelumnya menggunakan cara tradisional yang sangat lambat prosesnya dan menggunakan tenaga yang banyak," katanya. 

Dengan penerapan mesin parut sagu pada mitra melalui Program Kosabangsa dari DRTPM Kemendikbud-Ristek melalui Universitas Papua (UNIPA) dan didampingi dari Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), kelompok tani sagu mitra yang sebelumnya hanya mengolah sagu menggunakan tradisional atau konvensional, kini mendapat hasil yang lebih baik.

Baca: Hari Ini, Penjabat Gubernur Tiga Provinsi Baru Papua Dilantik, Salah Satunya Berstatus Rektor

"Dengan mesin parut, banyak peningkatan atau kemajuan dalam mengolah menjadi empulur sagu. Sebab lebih cepat prosesnya dibanding hanya mengolah sagu secara tradisional dan konvensional," ungkap Bertha Mangallo.

Baca: BPK Buka Lowongan Kerja PPPK, Terima Lulusan S1 Berbagai Jurusan, Tersedia 107 Formasi

Lebih lanjut Bertha Mangallo mengatakan, bahwa kelompok mitra petani sagu sangat berterima kasih kepada pelaksana Program Kosabangsa dari UNIPA atas penerapan mesin parut sagu ini. 

"Karena tenaga yang digunakan sangat efisien serta prosesnya sangat cepat dibanding dengan cara tradisional atau konvesional," katanya. (Wahyudin)


Baca juga