Penulis Lukfandy Alam (kiri) bersama Pak Eca yang sehari-hari mencari nafkah sebagai pengamen.
Tanpa pikir panjang, Pak Eca menerima ajakan itu. Meski awalnya canggung, Pak Eca akhirnya mampu beradaptasi dengan para pengamen lainnya.
Ia juga harus banyak belajar dan memulai hal-hal yang baru sebab sebelumnya tidak punya minat sebagai penyanyi. Hingga tidak terasa, Pak Eca mengaku sudah setahun lebih mencari nafkah sebagai pengamen. Berbicara penghasilan, Pak Eca mengaku tidak menentu. Dalam sehari kisarannya antara Rp 30.000 hingga Rp. 70.000. Namun, dibanding pengamen lainya, Pak Eca mengaku penghasilannya relatif rendah. Sebab, dia hanya mengamen di hari tertentu dan waktu tertentu, seperti pada saat sore atau malam hari.Kadang-kadang hanya pagi dan malam hari saja, mengingat kondisi tubuh yang tidak memungkinkan bekerja setiap hari. Banyak suka dan duka yang sudah dilewatinya. Misalnya, harus lama berdiri sembari bernyayi yang seringkali membuat kondisi tubuhnya melemah.Kondisi yang kurang disukai Pak Eca adalah ketika hujan turun yang membuat jumlah pengendara tidak banyak. Artinya, peluang mendapatkan penghasilan juga berkurang. Satu hal yang membuat Pak Eca bisa bertahan jadi pengamen, karena menemukan banyak teman yang senasib dan mereka solid serta saling membantu menghadapi berbagai kesulitan hidup. Harapan terbesar Pak Eca adalah memiliki cukup biaya untuk berobat dan bisa sembuh total. Jika sehat seperti sediakala, Pak Eca ingin mencari pekerjaan yang penghasilannya lebih menentu. (*) Laporan: Lukfandy Alam, Mahasiswa Komunikasi Unismuh Makassar
Baca juga