Xanana Gusmao

Xanana dinilai telah menghadapi tantangan kompleks dalam membawa masyarakat Timor Leste melewati pengalaman konflik menuju kondisi negara yang lebih stabil.

“Kami mengakui keberhasilan beliau dalam membawa masyarakat dan negaranya menuju kondisi yang jauh lebih baik, khususnya setelah melalui berbagai tantangan dan pengalaman masa lalu,” tambah Prof. Sukri.

Kepemimpinan tersebut turut terlihat dari upaya Xanana menjaga hubungan damai dan harmonis dengan negara-negara di kawasan. 

Kemampuan ini merupakan bagian dari kepemimpinan yang berkontribusi terhadap kondisi sosial dan politik Timor-Leste.

Diberikan Secara Selektif

Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Internasionalisasi, dan Kealumnian, Prof. Ir. Suharman Hamzah, S.T., M.T., Ph.D., HSE., mengatakan pemberian gelar Doktor Honoris Causa merupakan bentuk penghargaan akademik yang diberikan secara selektif. 

Penerima gelar dinilai berdasarkan kontribusi dan jasa luar biasa dalam bidang tertentu.

“Penerima itu bisa WNI atau WNA dengan bukti memiliki kontribusi dan jasa luar biasa dalam bidang ilmu sosial politik, teknologi, seni, dan bidang lainnya,” jelas Prof. Suharman.

Dalam konteks Xanana Gusmão, kontribusi tersebut dipertimbangkan melalui perspektif kepemimpinan yang memiliki relevansi dengan bidang Administrasi Publik.

Pemberian gelar melalui program doktor juga mencerminkan keterkaitan antara pengalaman praktis seorang pemimpin dengan pengembangan pengetahuan akademik.

Penganugerahan gelar kehormatan kepada Xanana Gusmão akan menambah deretan tokoh penting yang pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Unhas.

Sebelumnya, Unhas pernah menganugerahkan gelar kehormatan kepada sejumlah tokoh, seperti Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pada 29 April 1963 dalam bidang Ilmu Politik Hubungan Antar-Negara, dan Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan dan tokoh perjuangan anti-apartheid, pada 10 Agustus 2005. (*/mir)



Baca juga