Pengurus ADPERTISI menghadiri Workshop Optimalisasi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) bagi Dosen di Lingkungan LLDIKTI Wilayah IX Angkatan III.

Jaringan tersebut menjadi potensi besar untuk memperluas literasi AI di lingkungan pendidikan tinggi.

“ADPERTISI memiliki anggota dan simpatisan yang jumlahnya mencapai ribuan dosen dan tersebar di ratusan perguruan tinggi swasta di berbagai daerah di Indonesia.

Pengetahuan dan keterampilan penggunaan AI seperti yang diperoleh dalam workshop ini sangat baik jika dapat ditransformasikan kepada jaringan ADPERTISI,” kata Buyung.

ADPERTISI, lanjutnya, dapat mengambil peran melalui pelaksanaan seminar, workshop, pelatihan, maupun forum berbagi praktik baik penggunaan AI.

Dengan pola tersebut, dosen yang telah mendapatkan pelatihan dapat menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan kepada dosen lainnya.

Jangan Hanya Sekali

Buyung berharap penguatan kompetensi AI bagi dosen dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, perkembangan teknologi AI berlangsung sangat cepat. Pengetahuan yang dianggap baru saat ini dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat.

Karena itu, dosen membutuhkan ruang pembelajaran dan pembaruan kompetensi secara terus-menerus.

Ia menilai kolaborasi antara LLDIKTI, perguruan tinggi, organisasi dosen, dan berbagai organisasi profesi dapat mempercepat proses peningkatan kompetensi tersebut.

ADPERTISI, katanya, siap menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan dan keterampilan pemanfaatan AI, terutama kepada dosen perguruan tinggi swasta.

Etika dan Integritas Akademik

Meski mendorong pemanfaatan AI secara luas, Dr. Buyung Romadhoni, S.E., M.Si. mengingatkan dosen tidak boleh menyerahkan seluruh proses akademik kepada teknologi.

AI tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu.

Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, tanggung jawab ilmiah, validasi informasi, serta integritas akademik tetap berada pada dosen.

“Dosen tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kompetensi dan kreativitas dosen, bukan menggantikan peran intelektual, integritas akademik, dan tanggung jawab dosen sebagai pendidik,” tegas Buyung.

Ia berharap workshop LLDIKTI Wilayah IX tersebut menjadi pemicu semakin banyak dosen untuk mempelajari AI secara serius, sekaligus menggunakannya secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Bagi Buyung, penguasaan AI pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengikuti tren teknologi. 

Kemampuan tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas dosen, memperkuat pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, serta menghasilkan pembelajaran dan karya akademik yang semakin berdampak. (*)


Baca juga