Donald Trump

LITERASI-ONLINE.COM - Kesepakatan damai antara pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengundang beragam reaksi.

Sebagian besar negara di dunia menyambut positif kesepakatan damai itu.

Namun, ada juga pihak yang mengkritik Presiden AS, Donald Trump, setelah tercapainya kesepakatan damai.

Para pengkritik menyebut Donald Trump terlalu lembek bahkan "tunduk" pada kemauan Iran.

Kritik tajam itu mengundang reaksi keras Donald Trump. 

Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya, Donald Trump menyebut  lonjakan indeks pasar saham yang memecahkan rekor tertinggi, adalah bukti keberhasilan langkah diplomasinya.

Ia juga menyinggung harga minyak dunia yang merosot tajam setelah tercapainya kesepakatan damai AS dan Iran. 

Donald Trump menyebut mereka yang mengkritiknya sebagai orang-orang bodoh. 

"Orang-orang bodoh ini mengira saya belum cukup keras terhadap Iran," tulis Donald Trump di Truth Social, seperti diberitakan Al Jazeera, Kamis (18/6/2026). 

Kritik tajam itu justru datang dari dalam negeri AS. 

Para pengkritik Donald Trump menilai, poin-poin kesepakatan damai itu tidak banyak menguntungkan AS.

Salah satu poin kesepakatan damai menyebutkan, Iran akan memangkas volume penyimpanan uranium yang diperkaya milik mereka. 

Sebagai timbal baliknya, Iran akan mendapat paket bantuan pemulihan ekonomi dalam skala besar. 

Sesuai jadwal, dokumen kesepakatan damai itu akan ditandatangani oleh kedus pihak di Kota Jenewa, Swiss, Jumat (19/6/2026). (*)



Baca juga