Tim peneliti Unhas ikut dalam upaya penyelamatan Hiu Gangga yang nyaris punah. (foto: Unhas)
LITERASI-ONLINE.COM, TARAKAN - Di tengah meningkatnya ancaman kepunahan spesies laut dunia, sebuah harapan muncul dari perairan Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Di sungai berarus tenang yang bermuara ke pesisir utara Kalimantan itu, tim peneliti dari Universitas Hasanuddin bersama James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus), spesies hiu air tawar yang selama bertahun-tahun dianggap nyaris hilang dari perairan dunia.Temuan tersebut menjadi kabar penting bagi komunitas konservasi internasional. Sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran historisnya, mulai dari Pakistan hingga Myanmar. International Union for Conservation of Nature (IUCN) bahkan menetapkan spesies ini dalam kategori Critically Endangered, menjadikannya salah satu hiu paling langka di dunia.Namun pada 2023, penelitian lapangan yang dilakukan tim kolaborasi internasional menghadirkan fakta yang mengejutkan. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, para peneliti berhasil mengamati 43 spesimen Hiu Gangga di Sungai Sesayap. Jumlah tersebut menjadikan kawasan itu sebagai salah satu habitat tersisa paling penting bagi keberlangsungan spesies yang selama ini nyaris tidak pernah ditemukan lagi.Lebih dari sekadar pencapaian ilmiah, temuan ini memperlihatkan bagaimana riset kolaboratif mampu membuka kembali ruang harapan bagi konservasi biodiversitas Indonesia. Bagi Unhas, penelitian tersebut juga menjadi bagian dari penguatan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan sains yang berdampak langsung terhadap persoalan lingkungan global.Komitmen itu mengemuka dalam Workshop on Conservation Planning for the Ganges Shark (Glyphis gangeticus) yang berlangsung di Universitas Borneo Tarakan, Selasa (13/05/2026). Forum tersebut mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan pegiat konservasi untuk mendiskusikan langkah perlindungan yang tidak hanya berbasis sains, tetapi juga realistis bagi masyarakat pesisir.Mewakili Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe menegaskan bahwa keterlibatan Unhas dalam penelitian ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam mendukung konservasi berbasis kolaborasi internasional dan penguatan riset kelautan berkelanjutan.Menurutnya, kerja sama antara Unhas dan James Cook University yang dimulai sejak 2022 tidak hanya berorientasi pada pengumpulan data ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk membangun model konservasi yang melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari solusi.“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat. Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” jelas Prof Rohani.Di sisi lain, peneliti dari James Cook University, Dr. Michael Grant, mengungkapkan bahwa Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada tahun 2024. Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya kawasan itu sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi hiu sungai yang sangat langka.Meski demikian, diskusi dalam workshop tidak hanya berbicara mengenai spesies dan habitat.
Baca juga