Tim peneliti Unhas ikut dalam upaya penyelamatan Hiu Gangga yang nyaris punah. (foto: Unhas)

Perhatian besar juga diarahkan pada kehidupan masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan ekosistem sungai dan muara.

Salah satu temuan penting yang mengemuka adalah fakta bahwa Hiu Gangga bukan target utama tangkapan nelayan. 

Spesies tersebut umumnya tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) ketika nelayan memasang jaring di kawasan muara. 

Nilai ekonominya yang rendah membuat hiu ini tidak diburu secara khusus oleh masyarakat.

Fakta tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam merumuskan pendekatan konservasi yang lebih adil. 

Para pemangku kepentingan sepakat bahwa perlindungan terhadap Hiu Gangga tidak akan diarahkan pada larangan total penangkapan, melainkan melalui skema perlindungan terbatas, seperti pelepasan anakan hiu, pengaturan ukuran tangkap, dan pembatasan alat tangkap tertentu. 

Pendekatan ini dinilai lebih realistis sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.

Sebagai langkah lanjutan, tim peneliti akan melakukan penelitian sosial-ekonomi di delapan desa sepanjang Sungai Sesayap untuk memetakan hubungan masyarakat dengan hiu dan pari, sekaligus mengidentifikasi bentuk insentif konservasi yang tepat.

Sosialisasi publik juga akan diperkuat melalui kartu identifikasi bergambar, poster edukasi, hingga pertemuan warga agar masyarakat semakin memahami pentingnya perlindungan spesies langka tersebut.

Dengan ditemukannya kembali Hiu Gangga di Kalimantan Utara, Unhas tidak hanya berkontribusi dalam penyelamatan salah satu spesies hiu paling langka di dunia, tetapi juga mempertegas perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif menghadirkan riset berdampak bagi keberlanjutan lingkungan dan masyarakat pesisir. 

Hiu Gangga merupakan spesies hiu sungai tropis yang hidup di wilayah hilir sungai, muara, hingga kawasan pesisir dengan kedalaman mencapai 50 meter. 

Spesies ini memiliki karakteristik moncong pendek dan membulat dengan panjang maksimum mencapai 275 sentimeter. 

Hiu muda umumnya ditemukan di perairan tawar dan muara, sementara hiu dewasa lebih banyak berada di kawasan pesisir. 

Populasi global Hiu Gangga diperkirakan tersisa kurang dari 250 individu dewasa dengan jumlah kurang dari 50 individu pada setiap subpopulasi, menjadikannya salah satu spesies hiu paling langka di dunia. 

Penurunan populasi Hiu Gangga diduga telah melampaui 80 persen dalam kurun 54 tahun terakhir. 

Ancaman utama berasal dari tangkapan tidak sengaja dalam aktivitas perikanan jaring insang dan pancing di kawasan sungai dan muara. Selain itu, degradasi habitat akibat pembukaan lahan pertanian yang meningkatkan sedimentasi, serta pembangunan bendungan yang mengganggu aliran sungai, turut memperbesar risiko kepunahan spesies tersebut. 

Temuan kembali Hiu Gangga di Sungai Sesayap pada 2023 sekaligus menjadi catatan penting, mengingat kemunculan terakhir spesies ini di wilayah Kalimantan sebelumnya tercatat di Sungai Kinabatangan, Malaysia, pada 2003. 

Melalui penguatan kolaborasi internasional, riset berbasis sains, serta pendekatan konservasi yang inklusif, Unhas terus mendorong lahirnya model tata kelola lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan biodiversitas, tetapi juga berpihak pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat lokal. 

Dari Sungai Sesayap, langkah kecil itu kini menjadi pesan besar tentang bagaimana ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan kepedulian dapat berjalan bersama menjaga masa depan ekosistem Indonesia. (*/pnliti/mir)


Baca juga