A. Sutrawati Kaharuddin, ibunda aktivis kemanusiaan Andi Angga Prasadewa, memberi keterangan kepada media.
LITERASI-ONLINE.COM - A. Sutrawati Kaharuddin, ibunda aktivis kemanusiaan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang bergabung dalam Global Sumud Flotilla yang diculik zionis Israel, Andi Angga Prasadewa, meminta pemerintah agar berupaya segera membebaskan anaknya.Harapan ini disampaikan saat ditemui wartawan di kediamannya, Jl Yusuf Daeng Ngawing (Mappala IV nomor 1) Kota Makassar, Selasa (19/5/2026).Ia mengetahui Angga diintersep oleh militer Israel pada pukul 15.00 dengan melihat berita di media.“Infonya itu Angga berangkat ke Gaza ada 56 kapal, bertolak dari Pelabuhan Marmaris Turki. Tapi memang sebagai seorang ibu, saya sudah punya firasat, saya selalu khawatir dan jam 03.00 (15.00) saya chat tapi sudah centang satu. Di situ saya mulai khawatir dan mulai mencari tahu,” ungkapnya.“Chat terakhir saya itu bunyinya, Bunda khawatir, kakak hati-hati, banyak istighfar terus. Yaa Allah jaga anakku, selalu dia jawab, Yaa Rabb yaa Bunda. Tapi chat terakhir itu sudah centang satu,” kata A. Sutrawati Kaharuddin.Ia mengungkapkan, selalu menasihati anaknya untuk banyak berdoa. Apalagi, anaknya sempat mengeluh mabuk laut.“Tapi ada chatnya dengan adiknya, bunyinya: sampaikan Bunda, kalo chat sudah centang satu berarti hp sudah saya buang ke laut. Itu disampaikan ke adiknya, mungkin pelatihannya begitu. Tapi malamnya saya sudah gelisah, firasat saya sebagai ibu, akhirnya saya cari tahu sendiri, jadi saya buka Global Sumud, disitulah muncul video-video kapal yang ditumpangi anak saya sudah di-intersep oleh zionis. Yaa Allah anakku diculik sama Israel,” terang ibu dua anak ini.Ia juga menceritakan awalnya tidak mengizinkan rencana keberangkatan Angga ke Gaza membawa misi kemanusiaan.Namun tekad Angga yang begitu kuat, akhirnya sang ibu mengizinkan.“Dia minta izin, waktu lebaran dia pulang. Awalnya saya tidak kasih izin, tapi dia bercandain saya, bilang tidak apa-apa bunda, sebelumnya dia sudah berangkat ke Kairo Mesir. Dan saya tahu anak saya, ini adalah panggilan hatinya jadi saya tidak larang, karena saya tahu anak saya, kalau sudah panggilan hatinya tak bisa dilarang,” kata Sutrawati ketika ditanya awak media terkait izin keberangkatan.Menurut ibunda Angga, sejak kecil ia memiliki jiwa sosial tinggi. “Sebenarnya ada pilihan pekerjaannya, tapi dia suka memang jadi relawan. Setelah lulus dari Pesantren IMMIM, dia tak mau kuliah dulu. Dia ngajar karate, ngajar Pramuka, jiwa sosialnya tinggi. Dan dia aktif di Tagana sebelum di Rumah Zakat,” katanya.“Harapan saya, agar pemerintah membebaskan anak saya. Karena keluarga tak bisa membebaskan Angga. Hanya pemerintah yang bisa. Anak saya pantas dibebaskan, anak saya aktivis kemanusiaan. Anak saya cuma bawa obat dan makanan untuk Palestina. Anak saya bukan teroris,” harapnya kepada pemerintah.
Baca juga