Warga Yahudi Ultra-Ortodoks unjuk rasa menolak wajib militer.

LITERASI-ONLINE.COM - Seribuan warga Yahudi Ultra-Ortodoks (Haredim) menggelar unjuk rasa pada akhir April 2026.

Pengunjuk rasa bahkan sempat memblokade jalan di Yerusalem yang memicu bentrok dengan polisi.

Mereka memprotes upaya pemerintah Israel memperluas wajib militer ke komunitas Yahudi Ultra-Ortodoks. 

Komunitas ini menuntut pengecualian ikut wajib militer.

Komunitas Haredim menganggap studi Taurat adalah pengabdian suci dan wajib militer akan mengganggu tradisi keagamaan mereka.

Mereka meminta studi Taurat tetap dihormati.

Dalam pernyataannya, mereka menyatakan lebih memilih mati daripada ikut wajib militer.

Bahkan sejumlah pengunjuk rasa ultra-Ortodoks menyerbu kediaman Kepala Polisi Militer Israel, Yuval Yamin, pada Selasa malam, di tengah meningkatnya ketegangan terkait penangkapan warga yang menolak wajib militer.

Radio Angkatan Darat Israel memberitakan, sekelompok demonstran Haredi menerobos masuk ke halaman rumah Yuval Yamin di Kota Ashkelon, selatan Israel.

Mereka datang melancarkan protes atas penangkapan pria ultra-Ortodoks yang dituduh menghindari wajib militer.

Polisi Israel mengklaim, jumlah massa yang datang ke rumah itu sekitar 200 orang.

Sebagian pengunjuk rasa nekat memanjat pagar dan masuk ke area rumah pejabat Israel itu.

Namun, saat kediamannya diserbu pengunjuk rasa, Yuval Yamin tidak berada di rumah.

Hanya istri dan anak-anaknya berada di dalam rumah.

Polisi tidak mampu mencegah penyerbuan itu, karena jumlah massa yang besar dan agresif.

Menurut media Israel, Hayom, unjuk rasa besar-basaran komunitas Ultra-Ortodoks merupakan hal yang serius.

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengecam kejadian itu.


Baca juga