Punggawa UFC berkumpul dalam sebuah rapat koordinasi yang dikemas hangat dalam suasana Halalbihalal untuk membentuk Batom Olahraga IKA Unhas.
Ia menegaskan bahwa tanggung jawab ini merupakan sebuah misi pengabdian yang akan dijalankan dengan dedikasi tinggi bagi almamater.“Ini bukan tentang sebuah jabatan, tapi tentang pengabdian. Kita ingin organisasi ini menjadi ruang silaturahmi yang dinamis melalui kesamaan hobi di lapangan hijau,” tegasnya.Azhari juga menggarisbawahi bahwa kecintaan pada sepak bola adalah benang merah yang menyatukan mereka sejak masa kuliah hingga detik ini. “Sejak dulu saat masih mahasiswa hingga sekarang, sepak bola tetap menjadi bagian dari hidup kita. Inilah perekat kebersamaan yang harus kita rawat,” tambahnya.Bagi Azhari, Batom Olahraga bukan sekadar mengejar piala, melainkan tentang menjaga kekompakan, mempererat tali persaudaraan, dan menciptakan ekosistem interaksi yang sehat bagi para alumni.Dengan rentetan agenda yang telah tersusun rapi, kehadiran Batom Olahraga IKA Unhas diharapkan menjadi motor penggerak kegiatan positif sekaligus memperkuat jati diri alumni melalui semangat juara dan kebersamaan.Apresiasi juga datang dari perwakilan PP IKA Unhas, Soewarno Sudirman. Ia menyebutkan bahwa forum diskusi di UFC telah sepakat untuk mewadahi alumni dari berbagai cabang olahraga bola, mulai dari sepak bola hingga futsal.“Kami sangat mengapresiasi terpilihnya Pak Azhari Sirajuddin. Diskusi ini mempertegas bahwa wadah ini milik semua alumni pecinta bola, baik itu sepak bola lapangan besar, mini soccer, maupun futsal,” ujar Soewarno.Respon Positif Lintas GenerasiDinamika pembentukan Batom Olahraga ini tak hanya bicara soal struktur, tapi juga menyentuh sisi emosional, kenangan, dan respek antaralumni. Dukungan kuat salah satunya datang dari Yasidin, sosok ikonik yang pernah aktif di UKM Sepakbola Unhas.Bagi Yasidin, sosok Azhari Sirajuddin adalah mentor sekaligus rekan lama. Hubungan mereka yang berakar sejak masa kuliah menyimpan memori unik yang selalu ia ingat dengan penuh kesan.“Lucunya, saya ini bisa dibilang ‘dijebak’ oleh Kak Ary untuk menjadi Ketua UKM Sepakbola Unhas dulu,” kenangnya sembari tertawa, mengenang peran Azhari dalam perjalanan organisasinya.Peristiwa itu terjadi saat momen makan bersama di lantai 8 Gedung Rektorat Unhas, di bawah bimbingan Prof. Amran Razak selaku PR III kala itu. Itulah awal mula kedekatan yang membentuk karakter kepemimpinan Yasidin di dunia sepak bola kampus.Ia mengakui bahwa banyak ilmu dan nilai-nilai organisasi yang ia serap dari Azhari Sirajuddin, termasuk dari senior lainnya seperti Yopie Lumendong. “Beliau dan Kak Yopie adalah guru tempat saya menimba ilmu tentang sepak bola Unhas,” akunya.Kini, melihat Azhari didapuk memimpin Batom Sepakbola IKA Unhas, Yasidin menilainya sebagai pilihan yang sangat tepat dan relevan dengan rekam jejaknya. Dukungan penuh pun ia sampaikan secara terbuka.“Hari ini beliau memimpin Batom Sepakbola IKA Unhas, dan saya seratus persen berada di belakang beliau. Ini adalah langkah hebat untuk kemajuan alumni,” tegasnya.Bagi Yasidin, kepemimpinan di badan ini bukan sekadar perkara posisi administratif, melainkan panggung untuk meneruskan napas kebersamaan yang dulu pernah tumbuh di lapangan merah kampus.Harapan besar juga disematkan agar Batom Sepakbola IKA Unhas bertransformasi menjadi ruang pembinaan yang mumpuni, regenerasi atlet alumni, serta memperkuat jejaring berbasis minat.Di tengah geliat penyusunan pengurus dan persiapan turnamen, sokongan dari figur seperti Yasidin menjadi bahan bakar semangat bagi organisasi. Ia adalah jembatan hidup yang menghubungkan memori masa lalu dengan visi masa depan sepak bola Unhas.“Salamaki, Kak Ary,” tutup Yasidin singkat, menutup dukungannya dengan doa keselamatan dan kesuksesan. (*)
Baca juga