Begitu juga sistem THAAD yang beroperasi pada ketinggian 40-150 km, ternyata sulit mencegat rudal yang meluncur rendah. Pada jarak lebih tinggi, sistem ini juga rentan terkecoh oleh umpan. Sedangkan Sistem Patriot (PAC-3 MSE) yang dirancang untuk pertahanan jarak dekat, waktu reaksinya sangat terbatas. Untuk mencegat rudal yang menukik tajam, pencegat membutuhkan percepatan dua hingga tiga kali lipat dari target.Hal ini jelas sulit dicapai jika rudal lawan bergerak di atas Mach 6. “Sistem pertahanan rudal AS yang ada secara teoritis dapat mencegat beberapa senjata hipersonik, tetapi faktanya berbeda di lapangan," tulis Liao dan rekan-rekannya. Buktinya, serangan Iran ke pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah untuk membalas serangan Israel-AS, mampu mencapai sasaran.Artinya, sistem pertahanan udara AS yang disebut-sebut hebat, tidak berdaya melawan drone murah Iran dan rudal balistik. Serangan balasan Iran itu mencakup pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.Rudal Iran juga menembus pertahanan Israel dan AS di atas Kota Tel Aviv dan kota lainnya. Penelitian Liao juga mengungkapkan, meski sebuah pencegat berhasil mengenai sasaran, rudal hipersonik sering kali dirancang dengan sistem redundan dan ketahanan tinggi. Artinya, serangan fisik yang tidak mengenai titik vital, kemungkinan besar gagal menghentikan rudal itu untuk menghancurkan sasaran. (*)