Donald Trump

LITERASI-ONLINE.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendapat sorotan dari negara-negara Eropa.

Kali ini, pernyataan Donald Trump yang meremehkan keterlibatan pasukan NATO dalam perang di Afghanistan memicu kemarahan luas di Eropa. 

Reaksi paling keras datang dari pemerintah dan rakyat Inggris.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Inggris menegaskan Trump keliru serta mencederai pengorbanan ribuan tentara sekutu yang bertempur dan gugur selama dua dekade konflik di Afghanistan.

Kontroversi ini bermula dari wawancara Trump dengan Fox News di Davos, Swiss. 

Pada wawancara itu, Trump menyatakan pasukan NATO tidak berada di garis depan selama perang Afghanistan. 

Menurutnya, hanya pasukan Amerika Serikat yang berada di garis depan medan pertempuran. 

Trump bahkan meragukan apakah NATO akan hadir membantu AS jika diminta di masa depan.

"Kami tidak pernah membutuhkan mereka (NATO), kami tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka," kata Trump, Kamis (22/1/2026) dalam wawancara itu, seperti dikutip kantor berita Associated Press.

“Mereka bilang mengirim pasukan ke Afghanistan atau ini dan itu, tapi mereka (NATO) berada sedikit di belakang, agak menjauh dari garis depan,” tambahnya.

Pemerintah Inggris yang ikut mengirim pasukan "membantu" AS di Afghanistan tentu saja murka pada pernyataan Trump.

Sebagai informasi, invasi AS di Afghanistan dimulai pada Oktober 2001.

Operasi itu dilakukan oleh koalisi pimpinan AS dengan keterlibatan puluhan negara, termasuk negara-negara anggota NATO.

Invasi ini dipicu serangan mematikan ke dua kota besar di Amerika Serikat pada September  2001 yang kemudian populer dengan sebutan serangan 9/11.

Serangan 9/11 itu telah memicu pengaktifan Pasal 5 NATO (yakni klausul pertahanan bersama) untuk pertama kalinya dalam sejarah berdirinya aliansi NATO. 

Dengan pengaktifan Pasal 5, negara-negara anggota sepakat bahwa serangan terhadap AS diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.


Baca juga