Wartawan senior Dr HM Dahlan Abubakar, M.Hum didampingi fasilitator Arwan Dg Awing membawakan materi teknik wawancara pada hari kedua Pelatihan Jurnalitik yang digelar pengurus DPD PSI Kota Makassar, Sabu (23/9/2023).

LITERASI-ONLINE.COM, MAKASSAR - Pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan pengurus DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Makassar memasuki hari kedua, Sabtu (23/9/2023).

Pada hari kedua, panitia menghadirkan wartawan senior Dr HM Dahlan Abubakar, M.Hum yang membawakan materi teknik wawancara.

Dahlan Abubakar didampingi fasilitator Arwan Dg Awing, SE (Direktur BugisPos.com).

Pelatihan jurnalistik yang diikuti puluhan peserta yang merupakan kader PSI dan wartawan ini berlangsung di Sekretariat DPD PSI Makassar, Jalan Diponegoro 138 Kota Makassar.

Kepada peserta, Dahlan Abubakar yang juga penulis buku memberikan beberapa tips cara wawancara yang efektif.  

Sebelum wawancara, mantan pengurus PWI Sulsel dan PWI Pusat mengingatkan wartawan untuk banyak membaca dan mencari info terlebih dulu mengenai hal-hal yang akan dikonfirmasi.

"Artinya, wartawan datang ke narasumber dengan bekal yang cukup, sehingga wawancara nyambung. Jangan datang dengan kepala kosong," kata Dahlan Abubakar.

Jauhkan Kesan Intimidasi

Mantan Pemimpin Redaksi (Pimred) Harian Pedoman Rakyat ini juga mengingatkan wartawan untuk menghindari kesan intimidasi saat wawancara.

Hal ini penting, agar narasumber merasa rileks sehingga wartawan lebih mudah menggali informasi. 

"Jika narasumber merasa tertekan, biasanya menjadi irit bicara sehingga menyulitkan wartawan mendapat banyak informasi penting dan menarik," katanya.

Pada sesi tanya jawab, suasana pelatihan seru dan dinamis karena banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan.

Pertanyaan yang muncul antara lain, tanggung jawab media jika memuat kutipan langsung dari narasumber yang berpotensi menimbulkan masalah. Baik masalah hukum maupun konflik lainnya. 

Menjawab pertanyaan ini, Dahlam Abubakar meminta wartawan bijak sebelum memutuskan memuat atau tidak kutipan langsung itu. 

"Jika merasa kutipan langsung itu berpotensi menimbulkan konflik, sebaiknnya tidak dimuat," jelasnya. (*)



Baca juga