Bupati Maros, Chaidir Syam didampingi Bunda Baca Hj.Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, Kadis Perpustakaan Amiludin A, mekuncurkan bukunya, Mendekap Maros, Jumat 12 Mei 2023 pada Peresmian Sekretariat AMTI

Oleh: Herman Lilo

“Chaidir Syam, Mendekap Maros” sebuah buku yang men-capture, rentang waktu dua tahun bupati Maros menjejak makna. 

Bagi yang berkesempatan membaca buku terbitan Yapensi tahun 2023 setebal 210 halaman ini tentu sudah menemukan kekayaan data serta grafis yang dideskripsikan dengan tata tutur yang menarik oleh editor Bachtiar Adnan Kusuma.

Lebih jauh, roh buku ini dapat ditemukan dalam petikan kata pengatar yang padat. “Di buku ini sejumlah cerita menarik tentang pergulatan Chaedir Syam (dalam) merebut mimpinya di kampus Universitas Hasanuddin menuju legislator di DPRD Maros sampai terpilih menjadi Bupati Maros. Banyak cerita menarik, humanis dan penuh harapan hidup dalam buku ini”.

Buku yang disayat-sayat dalam lima babak ini tidak membosankan untuk menjadi teman bacaan dalam segala suasana, apalagi saat santai menikmati segelas kopi. 

Ibaratnya sedang menikmati kue lapis dengan aneka rasa yang berbeda. Di bagian prolog, pembaca diantar mengenali jejak awal Chaidir Syam menemukan cinta terhadap wewangi Butta Salewangang. 

“Andai Maros itu sebatang tubuh, maka ijinkan saya untuk mendekapnya lagi dan lagi. Berkarya untuknya dan memberikan kehangatan dengan pengabdian yang bertubi-tubi”. 

Kalimat dahsyat ini seperti prasasti yang terpahat di sepanjang dinding hati seorang Chaidir Syam yang mewujud dalam tagline “Maros Keren”.

Berangkat dari dua nama yang tak pernah lekang, yakni sang Ayah Andi Syamsuddin dan Andi Nadjmiah, ibunda tercinta yang kasihnya terus mengalir seperti mata air yang tak pernah kering. 

Begitulah bagian pertama diuraikan tentang pesta pengantin di Desa Masaga, Salomekko Kabupaten Bone, hingga putra yang dinantikan itu lahir pada tanggal 2 Februari 1977 dan oleh sang Ayah diberikan nama Chaidir, sesuai dengan nama seorang dokter yang merawat ibundanya.

Kisah lain yang didaras pada bagian ini adalah tingkah laku masa kanak Chaidir, sampai masuk SMP Negeri 2 Maros tempatnya mengenal organisasi OSIS yang berlanjut hingga ke SMA Negeri 1 Maros. 

Di sana persentuhan dengan dunia panggung di sanggar Turi bagian yang menurutnya paling berbekas. 

Chaidir menyatakan dalam bukunya, “selalu saja ada alasan bagi saya untuk terkesima, takjub di kala mendengar cerita tentang budaya lokal”. 

Dari sanggar Turi ini pula menemukan passion bekesenian dan menemui asa untuk melestarikan budaya lokal Kabupaten Maros.

Pilihan jalan takdirnya kemudian untuk lanjut ke perguruan tinggi, tidak lepas dari ibundanya tercinta. 

Chaidir mengakui bahwa dirinya menjadi mahasiswa ilmu pemerintahan di FISIP Universitas Hasanuddin karena pilihan ibunya. “Ibu yang melingkari bulatan pilihan pada Ilmu Pemerintahan”.

Babak kehidupan selanjutnya bagi Chaidir adalah menggeluti berbagai macam organisasi, baik intra kampus maupun organisasi ekstra kampus seperti Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Sulawesi Selatan. 

Dan menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat HPPMI (Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa) Kabupaten Maros. 

Semangat leadershipnya terinspirasi dari tokoh idolanya yaitu Amien Rais. Chaidir menyatakan “Tokoh idolaku adalah Bapak Reformasi Prof. Dr. H. M. Amin Rais. Bukan gaya beliau yang saya kagumi. Tapi pemikiran dan gagasannya yang berani.

Jejak rekam Chaidir di panggung politik tak lepas dari karya besar Amien Rais yang mendeklarasikan Partai Amanat Nasional. 

Keberadaan PAN seperti menjadi “matahari baru” juga harapan baru bagi masyarakat Muhammadiyah. 

Pada Pemilu Legislatif tahun 1999, Chaidir mulai iseng ‘maccaleg’ dan mendapatkan nomor urut 2. Lanjut ikut bertarung lagi pada Pemilu 2004 namun belum lolos jua meski telah mencurahkan segenap tenaga. 

Namun, pucuk dicinta PAW datang, Chaidir kembali ke DPRD Maros usai Hatta Rahman terpilih menjadi Bupati Maros.


Baca juga