Penasihat komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohammad Reza Naqdi
Baik dari sisi perundingan damai yang dimotori Pakistan maupun penguasaan Selat Hormuz. Ia menjelaskan, kemampuan Iran mengendalikan situasi membuat Donald Trump berkali-kali mengganti strategi. Reza Naqdi menilai, Donald Trump membawa militer AS masuk kancah perang tanpa strategi.Buktinya, hampir setiap waktu Donald Trump mengumumkan tujuan baru perang lawan Iran.Awalnya, ingin meruntuhkan kepemimpinan Iran.Lalu, tujuannya berubah untuk melumpuhkan persenjataan militer Iran.Setelah itu, Donald Trump ingin menguasai Selat Hormuz. Produksi Rudal Ia juga menegaskan, persedian rudal Iran sangat memadai untuk menghadapi konfrontasi jangka panjang lawan AS. "Iran memproduksi senjata (rudal) dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang digunakan setiap hari," katanya. "Bahkan jika suatu hari nanti Iran kehabisan rudal, justru saat itulah kami akan menjadi jauh lebih berbahaya bagi AS. Sebab, AS memiliki ribuan kepentingan ekonomi di seluruh dunia, dan semuanya dapat dihancurkan dengan mudah," katanya. Kelemahan Lawan Ia mengungkapkan, perang lawan AS membuat militer Iran belajar banyak mengenai kelemahan lawan. "Semakin lama perang ini berlangsung, semakin banyak pengalaman dan pelajaran yang kami peroleh," jelasnya."Dalam lima bulan ini, kami telah mempelajari dan mengetahui kelemahan mereka (militer AS)," tuturnya.Reza Naqdi menilai, kemampuan militer AS tidak sehebat yang mereka bayangkan sebelumnya. (*)
Baca juga