“Agenda ini menjadi pengingat penting bahwa pengabdian iman tidak hanya seputar hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesamanya, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral menjaga bumi ciptaan-Nya,” jelasnya.Gerakan peduli lingkungan yang melibatkan sekitar 8.000 peserta dan ribuan suporter ini dinilai sukses membangun kesadaran kolektif. Kebiasaan membawa tumbler mandiri, meminimalkan plastik sekali pakai, serta memilah sampah menjadi aksi nyata demi mewujudkan Indonesia yang ASRI (aman, sejuk, resik, indah).Ia berharap kebiasaan hijau yang telah dipraktikkan selama kompetisi tidak menguap begitu saja, melainkan terus diimplementasikan oleh para peserta sekembalinya mereka ke daerah masing-masing.“Kita telah membuktikan kepada dunia bahwa nilai-nilai spiritualitas dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan sebagai fondasi pembangunan negara yang berkelanjutan,” tegas Menag.Menag juga menyampaikan pesan menyentuh bahwa seluruh kontingen adalah pemenang sejati karena membawa misi perdamaian dan kelestarian alam. Baginya, kemenangan hakiki bukan diukur dari banyaknya trofi, melainkan dari kontribusi nyata dalam menampilkan wajah Indonesia yang damai dan penuh toleransi.Di akhir amanatnya, Menag menghaturkan terima kasih mendalam kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat, LPPN, panitia pelaksana, TNI/Polri, tokoh agama, serta relawan yang telah memastikan acara berjalan aman, tertib, dan kondusif.Ia juga menitipkan pesan agar seluruh peserta membawa pulang api persaudaraan dari Tanah Papua Barat untuk mengobarkan semangat persatuan di daerah masing-masing.“Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, rangkaian acara Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 resmi saya nyatakan ditutup,” ucap Menag menutup sambutannya.
Rumah yang Aman Bagi SemuaSenada dengan Menag, Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) sekaligus Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th, M.Pd, menyampaikan dalam laporannya bahwa lewat gema pujian ini, Indonesia mengirimkan sinyal positif sebagai rumah yang aman dan nyaman bagi seluruh warganya.Menurut Dirjen, Pesparawi XIV sukses bertransformasi melebihi sekadar ajang kompetisi, melainkan menjadi panggung penguatan moderasi beragama, gerakan ekoteologi, peningkatan ekonomi lokal, hingga perajut persatuan bangsa."Melalui Pesparawi Nasional XIV, pesan kuat yang ingin kita sampaikan kepada dunia adalah bahwa Indonesia adalah rumah yang aman bagi siapa saja. Dalam perbedaan, kita tetap bisa bernyanyi dalam satu harmoni dan menjaga alam ciptaan-Nya," ungkap Dirjen."Sepuluh hari ini menjadi saksi bukan hanya bagi kompetisi yang ketat, tetapi juga bagi jalinan persaudaraan yang erat dan kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup," tambahnya.Dirjen juga memaparkan keberhasilan pelaksanaan seluruh rangkaian agenda strategis, mulai dari penjurian yang akuntabel, lomba di 12 kategori, Karnaval Budaya yang meriah, pameran UMKM, aksi tanam pohon di Pulau Mansinam, hingga Munas yang menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah Pesparawi XV Tahun 2029.Menariknya, komitmen ramah lingkungan lewat kewajiban membawa tumbler bagi seluruh kontingen berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai ajang dengan jumlah peserta terbanyak yang menggunakan tumbler.Menutup laporannya, Dirjen mengapresiasi kehangatan Pemprov Papua Barat, Pemkab Manokwari, serta masyarakat setempat yang membuktikan bahwa wilayah timur Indonesia sangat siap menyelenggarakan event nasional dengan standar kualitas yang tinggi. (*)