Suwadi Thahir (kanan) terpilih sebagai Ketua PWI Sulsel 2026-2031.

Ia menggarisbawahi bahwa organisasi profesi wartawan harus menjelma sebagai rumah bernaung yang ramah bagi seluruh anggotanya, tanpa memandang bendera media ataupun faksi-faksi tertentu.

Estafet kepemimpinan di tangan Suwardi Thahir ini sontak mengembuskan angin segar bagi organisasi pers tertua di tanah air ini. Apalagi, industri media saat ini tengah diguncang badai disrupsi digital, maraknya hoaks, hingga urgensi peningkatan kapasitas para kuli tinta yang makin mendesak.

Tugas berat pun menanti di pundak Suwardi selama lima tahun ke depan, di mana ia dituntut mampu merekatkan soliditas internal, mendongkrak kualitas SDM, serta membentengi independensi dan profesionalisme pers di Sulsel.

Tak hanya itu, PWI Sulsel di bawah komandonya diharapkan bisa lebih getol menelurkan program edukasi, pelatihan berkala, serta sertifikasi UKW demi mencetak jurnalis yang berintegritas dan siap bertarung di era media modern.

Tak pelak, Konferensi PWI Sulsel tahun ini menjadi titik balik krusial untuk menentukan arah kompas organisasi. 

Di tengah gempuran informasi digital dan ancaman berita bohong yang kian masif, peran organisasi pers yang kokoh menjadi harga mati demi menjaga marwah, etika, dan kredibilitas jurnalisme.

Berbekal mandat penuh dari seluruh anggota, Suwardi Thahir kini mengemban misi besar untuk mentransformasi PWI Sulsel menjadi lembaga yang solid, tangguh, adaptif, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengawal pembangunan daerah lewat produk jurnalistik yang sehat, berimbang, dan mencerahkan.

Aklamasi ini bukan sekadar kemenangan di atas kertas, melainkan representasi dari asa yang digantungkan oleh seluruh insan pers Sulawesi Selatan di pundak Suwardi Thahir, agar media mampu terus berdiri tegak sebagai pilar demokrasi yang independen, profesional, dan terpercaya. (*)



Baca juga