LITERASI-ONLINE.COM - Situasi politik di Israel memanas menjelang pelaksanaan Pemilu 2026 yang dijadwalkan Oktober.Dua mantan Perdana Menteri (PM) Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi bersatu atau menjalin koalisi.Target utama koalisi dua tokoh itu adalah menumbangkan petahana PM Israel, Benjamin Netanyahu, pada Pemilu tahun ini. Naftali Bennett mengumumkan koalisi itu secara resmi melalui tayangan televisi."Saya mengumumkan bahwa malam ini, bersama dengan teman saya Yair Lapid, mengambil langkah paling patriotik yang pernah kami ambil untuk negara kami," kata Bennett dalam pernyataan bersama dengan Yair Lapid, Minggu (26/4/2026), seperti dilansir AFP. Sebagai langkah nyata, keduanya bersepakat mendirikan partai baru bernama Beyahad yang dipimpin Naftali Bennett. Dalam pernyataan resmi itu, keduanya yakin memenangkan pemilu dan membawa Israel ke arah yang lebih baik. Yair Lapid yang kini menjadi pemimpin oposisi, menaruh kepercayaan penuh kepada Bennett.Yair Lapid menilai Bennet politisi yang jujur, sehingga dapat dipercaya.
Baca: Tersangka Penembakan di Acara Donald Trump: Cole Tomas Allen, Guru dan Pembuat Game, Apa Motifnya?Salah satu agenda dua mantan pemimpin Israel itu jika memenangkan Pemilu 2026 adalah membentuk komisi penyelidikan nasional untuk mengusut tuntas kegagalan intelijen dan militer yang memicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sebab, hingga sekarang, PM Benjamin Netanyahu terus menolak pembentukan komisi nasional itu. Selama ini, Bennett dan Yair Lapid sering mengkritik cara Netanyahu menangani perang.