New York Times memberitakan AS menyerang Iran.

Media ini sebelumnya merilis laporan dan konten yang menyebut Iran menang dalam perang melawan AS dan sekutunya Israel.

New York Times merilis artikel berjudul "Meski Babak Belur, Pemimpin Iran Percaya Diri dalam Perang-Punya Kartu Baru (Iran's Battered Leaders Emerge From War Confident - and With New Cards) pada 9 April 2029.

New York Times menulis, bagi pemerintahan Iran, mampu bertahan dari operasi gabungan AS dan Israel adalah kemenangan.

Media ini juga merilis video pada 3 April dengan judul "What If Iran Wins This War." 

Mereka membahas kemungkinan AS kalah dalam perang yang mereka mulai.

Video ini meupakan bagian dari program The Ezra Klein Show yang menghadirkan host Ezra Klein dan Direktur Kebijakan Luar Negeri Brooking Institution, Suzanne Maloney.

"Anda pernah membayangkan sebulan dari sekarang perang bisa mereda karena Amerika tak tahan dengan kekacauan yang ditimbulkan terhadap energi, pupuk, helium global, pasokan, dan lain-lain. Pemerintahan Iran bersikeras dengan tindakannya mengendalikan Selat Hormuz yang kemungkinan mengubah ongkos kapal," kata Ezra Klein.

"Dan itu seperti, bagi saya, perang yang akan kita kalahkan, apakah salah?" tanya Klein.

Dalam jawabannya, Suzanne sependapat dengan Klein. "Saya kira itu benar," kata Suzanne.

"Saya tak melihat kemenangan (Amerika) dalam terminologi yang sesungguhnya di akhir krisis ini," tambah Suzanne.

Pendapat Pakar

Pakar juga sependapat dengan New York Times bahwa Iran yang memenangkan perang ini. 

Pendapat itu dikemukakan Direktur Program Peperangan, Ancaman Tak Teratur dan Terorisme Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Daniel Byman.

Menurut Daniel Byman, Iran berhasil membawa kerugian besar bagi AS. "Strategi Iran adalah bertahan, menimbulkan kerugian, dan menggeser pusat gravitasi konflik ke luar," katanya.

"Dan strategi ini mencapai keberhasilan yang berarti," jelas Daniel Byman dalam tulisan analisisnya yang dirilis di situs CSIS, Rabu (8/4/2026).

"Dengan mendestabilisasi pasar energi global, memperketat aliansi AS, dan mengungkap keterbatasan kekuatan koersif Amerika, Iran secara taktis membawa kerugian strategis yang signifikan bagi Washington," tutup Byman. (*)



Baca juga